LINTASKALIMANTAN.CO| Kerusakan parah Jalan Lintas Provinsi Kalimantan Tengah – Kalimantan Timur tepatnya di Jalan Muara Teweh–Benangin kini bukan sekadar keluhan, melainkan sudah melumpuhkan aktivitas warga. Jalan yang menjadi urat nadi penghubung antar wilayah tersebut praktis tak bisa dilalui saat musim hujan, sementara pemerintah terkesan membiarkan kondisi ini berlarut-larut.
Puncaknya, dua unit truk bermuatan material terjebak dan amblas di tengah jalan di KM 08-09 akibat badan jalan yang rusak berat, berlubang dalam, dan berubah menjadi kubangan lumpur. Akibat kejadian itu, arus lalu lintas terhenti total, warga tidak bisa melintas, dan aktivitas ekonomi terganggu.
Warga menegaskan kerusakan jalan ini bukan baru terjadi kemarin, melainkan sudah berlangsung lama tanpa penanganan serius. Saat hujan turun, jalan berubah seperti rawa, lubang tertutup air, dan kendaraan dipaksa berjudi dengan keselamatan.
“Ini jalan provinsi, tapi kondisinya seperti jalan tak bertuan. Kami tidak bisa lewat, truk terjebak, motor bisa celaka. Pemerintah ke mana?” ujar Toni seorang warga Benangin dengan nada kesal saat melintasi jalan tersebut yang terjebak macet. Kamis (08/01/26).
Para sopir truk mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk berusaha mengevakuasi kendaraan mereka. Selain kerugian materi, mereka juga mempertaruhkan keselamatan akibat jalan yang sudah tidak layak dilalui kendaraan bermuatan.
“Dengan kondisi jalan seperti ini selain kita harus kehilangan waktu tempuh juga mengalami kerugian kerusahan mobil bagian depan bawah karena tersamgkut saat dipaksa melintas dijalan yang rusak, ” ungkap Toni lagi.
Warga menilai pemerintah provinsi gagal menjalankan kewajibannya dalam menjaga infrastruktur publik. Jalan yang seharusnya menjadi pendukung utama mobilitas dan distribusi barang justru berubah menjadi hambatan serius bagi masyarakat.
Ironisnya, hingga kejadian dua truk terjebak ini terjadi, tidak terlihat langkah darurat, peringatan keselamatan, maupun perbaikan permanen di lokasi. Warga menduga penanganan jalan hanya sebatas janji dan tambal sulam tanpa solusi jangka panjang.
Masyarakat mendesak agar pemerintah tidak lagi menunggu korban jiwa baru bertindak. Mereka meminta perbaikan menyeluruh, bukan sekadar menutup lubang dengan tanah atau batu yang kembali rusak saat hujan.
“Kalau ini terus dibiarkan, jangan salahkan masyarakat kalau mempertanyakan kinerja pemerintah. Jalan ini jalur hidup kami,” tegas Toni.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari instansi terkait, meski kondisi jalan semakin memburuk dan membahayakan pengguna jalan setiap hari. (*/anung/red)






