Gambar Ilustrasi (foto: */google-anung/tim-red)
LINTASKALIMANTAN.CO | Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite dan Biosolar dan non-subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di Kabupaten Barito Utara kembali memicu keresahan masyarakat. Dimana, Dalam beberapa hari terakhir, warga di sejumlah Desa di wilayah se-Kecamatan Barito Utara mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM jenis Pertalite dan Pertamax di SPBU, sementara beredar nota harga eceran di luar kota Muara Teweh justru melambung tinggi hingga mencapai Rp30.000 per liter untuk Pertalite.
Menurut sumber yang dihimpun media ini dampak dari kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Barito Utara semakin memukul aktivitas masyarakat. Di tingkat pengecer, minyak Pertalite kini sulit ditemukan. Bahkan di beberapa titik, kios-kios eceran memilih tutup karena tidak mendapat pasokan sama sekali.
Sementara itu, di lokasi yang masih menjual, harga Pertalite maupun Pertamax melonjak tajam hingga Rp25.000–Rp30.000 per liter, jauh di atas harga normal. Kondisi ini membuat warga terhimpit, terutama mereka yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk bekerja
“Di eceran banyak yang kosong, kalaupun ada harganya sangat mahal. Kami jadi serba sulit,” ujar seorang pengendara roda dua di Muara Teweh, kepada media ini. Rabu (3/12/25).
Pantauan di lapangan, antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat terlihat mengular di sekitar SPBU yang masih beroperasi. Warga rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan jatah BBM, meski jumlahnya terbatas.
Beberapa orang warga di Muara Teweh mengaku sudah dua hari kesulitan mengisi BBM di SPBU yang ada Barito Utara.
“Kalau di SPBU sering habis, giliran ada kita harus antre panjang. Kalau beli eceran harganya sudah tidak masuk akal, bisa sampai tiga puluh ribu per liter,” ujarnya.
Tidak hanya pengendara pribadi, Kelangkaan ini juga berdampak pada pelaku usaha kecil, seperti ojek, pedagang, hingga petani yang membutuhkan BBM untuk operasional. Beberapa sopir angkutan barang mengaku terpaksa mengurangi perjalanan karena biaya meningkat drastis. Sebagian pedagang bahkan terpaksa mengurangi aktivitas distribusi karena tidak sanggup menanggung lonjakan biaya.
Warga meminta Pemerintah Daerah dan Pihak Stakeholder terkait segera turun tangan untuk memastikan pasokan BBM kembali stabil.
“Jangan sampai kondisi ini berlarut-larut, kami masyarakat yang dirugikan bahkan jadi korban,” timpal warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari instansi terkait mengenai penyebab pasti kelangkaan maupun langkah penanganan yang akan ditempuh.
Kelangkaan BBM ini kembali menjadi perhatian Publik dan diharapkan Pemerintah bergerak cepat agar kondisi harga BBM di Barito Utara segera kembali normal. (*/anung/tim)

