GMKI PALANGKA RAYA: PERSEMBAHAN NATAL NASIONAL UNTUK PALESTINA ADALAH PANGGILAN PROFETIK BANGSA INI JANGAN MATI HATI NURANI

- Jurnalis

Selasa, 25 November 2025 - 22:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTASKALIMANTAN.CO I Perayaan Natal Nasional yang diselenggarakan pada tahun ini membawa pesan khusus: seluruh persembahan ibadah akan didedikasikan bagi rakyat Palestina yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan paling mengerikan dalam sejarah modern mereka. Langkah ini dipuji luas, namun juga menjadi refleksi moral bagi bangsa Indonesia.

Ketua GMKI Cabang Palangka Raya, Arpandi, menyebut keputusan tersebut sebagai “tindakan kasih yang harus dibaca secara profetik”. Menurutnya, solidaritas kepada Palestina tidak boleh hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi harus menjadi cermin bagi nurani bangsa Indonesia, yang saat ini sedang diuji oleh berbagai krisis moral dan sosial.

1. Solidaritas untuk Palestina: Tindakan Iman, Moral, dan Kemanusiaan

Arpandi menegaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar isu internasional, tetapi tragedi kemanusiaan yang menuntut respons moral semua umat beriman. Persembahan Natal Nasional yang diarahkan kepada Palestina adalah:

tindakan iman, karena Natal mengajarkan kasih kepada yang tertindas;

tindakan moral, karena penderitaan mereka harus disentuh oleh nurani global;

tindakan politik kemanusiaan, karena Indonesia sebagai bangsa besar memiliki tanggung jawab moral di percaturan dunia.

Namun, Arpandi mengingatkan bahwa bantuan tersebut tidak boleh berhenti pada seremoni.

“Kita memberi untuk Palestina karena hati nurani kita terpanggil. Tetapi pertanyaannya: apakah hati nurani yang sama juga bekerja untuk rakyat kita sendiri…?” ujarnya.

2. Kritik Profetik terhadap Situasi Dalam Negeri: Bangsa yang Terancam Mati Nurani

Menurut Arpandi, pesan Natal selalu mengandung suara profetik, yakni teguran keras bagi mereka yang berada di dalam struktur kekuasaan maupun masyarakat yang mulai kehilangan sensitivitas moral.

Ia menyoroti sejumlah persoalan dalam negeri yang menggambarkan gejala “mati hati nurani”, yaitu:

a. Ketimpangan sosial yang semakin melebar

Ditengah pembangunan kota-kota besar dan investasi besar-besaran, masih banyak rakyat yang berjuang untuk kebutuhan dasar. Sementara itu, praktik korupsi terus terjadi, memperlihatkan kehilangan rasa malu oleh para pejabat.

b. Politik transaksional yang menghilangkan nilai moral

Dalam banyak momentum politik, suara rakyat seringkali dipertukarkan dengan uang, jabatan, atau fasilitas. Politik kehilangan roh pelayanan.

c. Degradasi moral dalam birokrasi dan kekuasaan

Arpandi , menegaskan bahwa ketika pejabat publik lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada memperjuangkan keadilan, maka mereka sesungguhnya telah kehilangan hati nurani.

d. Konflik sosial dan marjinalisasi rakyat kecil

Mulai dari masalah agraria, eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan, persoalan ketidakadilan di daerah pedalaman, hingga konflik horizontal yang tidak ditangani secara adil semuanya menunjukkan lemahnya kehadiran negara.

e. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi rakyat

Ketika masyarakat kecil harus bergulat dengan harga pangan yang melonjak, pemerintah justru sibuk dengan narasi keberhasilan ekonomi yang tidak dirasakan oleh rakyat.

“Jika bangsa hanya tersentuh oleh penderitaan luar negeri tetapi membiarkan ketidakadilan menumpuk di rumah sendiri, itu tanda bahwa nurani kita sakit,” tegas Arpandi.

Baca Juga :  Polsek Katingan Hilir Ungkap Kasus Curanmor Yamaha NMAX, Pelaku Ditangkap di Antang Kalang

3. Natal Nasional Harus Menjadi Momentum Kebangkitan Moral

GMKI Palangka Raya menegaskan bahwa Natal Nasional tidak boleh berhenti sebagai acara besar penuh dekorasi. Natal harus menjadi:

* panggilan pertobatan sosial,

* titik balik moral bangsa,

* dan suara profetik yang berani menegur struktur kekuasaan.

“Yesus lahir bukan untuk kenyamanan. Ia lahir untuk menegur mereka yang menindas dan membangkitkan yang tertindas. Natal adalah kritik sosial.”, ungkap Arpandi.

Karena itu, ia meminta agar gereja-gereja di Indonesia tidak tenggelam dalam seremoni, tetapi kembali pada tugas profetik: menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara.

4. Persembahan untuk Palestina sebagai Cermin Keadilan

Arpandi menjelaskan bahwa tindakan memberikan persembahan Natal untuk Palestina bukan hanya bentuk kepedulian global, tetapi juga alat untuk menilai arah moral bangsa.

Baca Juga :  Pisah Pamit Dandim 1013/MTW dengan Rekan Wartawan di Barito Utara, Kolonel Inf Agus Salim Tou Sampaikan Ini

“Kita membantu Palestina, tetapi apakah kita sudah membantu masyarakat adat kita sendiri…?

Kita peduli pada Gaza, tetapi apakah kita peduli pada masyarakat miskin kota ….?
Kita bersuara keras untuk kemanusiaan dunia, tetapi apakah kita cukup keras terhadap ketidakadilan di negeri sendiri?”**

GMKI Palangka Raya melihat bahwa sikap solidaritas internasional harus diiringi dengan tanggung jawab internal. Karena itu, mereka meminta agar pemerintah tidak menggunakan isu internasional sebagai tameng untuk mengabaikan problem domestik.

5. Seruan Profetik GMKI Palangka Raya

Dalam pernyataanya Arpandi menyampaikan tiga seruan penting bagi bangsa:

a. Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia

Harus kembali pada misi profetik, berani menegur ketidakadilan, membela martabat manusia, dan konsisten menyuarakan kebenaran, baik tentang Palestina maupun kondisi rakyat Indonesia.

b. Pemerintah Republik Indonesia

Harus memperhatikan suara rakyat kecil, memastikan kebijakan pembangunan tidak melukai masyarakat miskin, menghentikan praktik kezaliman birokrasi, dan menjaga komitmen kemanusiaan baik di dalam maupun di luar negeri.

c. Kaum muda dan mahasiswa

Dipanggil untuk menjaga integritas, tidak tunduk pada politik uang, menjadi agen perubahan, dan terus meneriakkan kebenaran meski tidak populer.

“Suara profetik tidak boleh padam. Jika mahasiswa diam, maka keadilan akan semakin jauh dari rakyat,” pungkasnya.

Dengan ini, GMKI Palangka Raya menegaskan kembali bahwa Natal Nasional harus dimaknai secara lebih mendalam. Persembahan untuk Palestina adalah tindakan mulia, tetapi bangsa ini juga harus kembali menyalakan hati nuraninya, agar keadilan dan kemanusiaan tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. (*/rls/AI-red)

Berita Terkait

Taekwondo Kotabaru Sabet Juara Umum, Bawa Pulang 57 Medali dari Banjarmasin
Kabar PPPK Paruh Waktu Dialihkan Jadi PNS Bikin Geger, Ini Penjelasan BKPSDM Kotabaru
HKT dan PDB Kalteng Bagikan 500 Masker Gratis, Ajak Warga Waspadai Dampak Karhutla
Kabut Asap Belum Mereda, KNPI Pulang Pisau Gelar Aksi Sosial Pembagian Masker dan Vitamin
Duka Kabut Asap Belum Usai, MES Pulang Pisau Hadirkan Bantuan Darurat Masker dan Vitamin untuk Pengendara
BEM SI Kerakyatan Kalteng Desak Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Warga di Tengah Kabut Asap
Bocah Barito Selatan Mengadu kepada Prabowo: Kabut Asap Mengepung, Anak-anak Kesulitan Sekolah
Relawan HKT Tetap Bergerak di Tengah Karhutla Kalteng, Doakan Api Segera Padam

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:36 WIB

Taekwondo Kotabaru Sabet Juara Umum, Bawa Pulang 57 Medali dari Banjarmasin

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:32 WIB

Kabar PPPK Paruh Waktu Dialihkan Jadi PNS Bikin Geger, Ini Penjelasan BKPSDM Kotabaru

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:51 WIB

HKT dan PDB Kalteng Bagikan 500 Masker Gratis, Ajak Warga Waspadai Dampak Karhutla

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Kabut Asap Belum Mereda, KNPI Pulang Pisau Gelar Aksi Sosial Pembagian Masker dan Vitamin

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:07 WIB

Duka Kabut Asap Belum Usai, MES Pulang Pisau Hadirkan Bantuan Darurat Masker dan Vitamin untuk Pengendara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page