LINTASKALIMANTAN.CO I Perayaan Natal Nasional yang diselenggarakan pada tahun ini membawa pesan khusus: seluruh persembahan ibadah akan didedikasikan bagi rakyat Palestina yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan paling mengerikan dalam sejarah modern mereka. Langkah ini dipuji luas, namun juga menjadi refleksi moral bagi bangsa Indonesia.
Ketua GMKI Cabang Palangka Raya, Arpandi, menyebut keputusan tersebut sebagai “tindakan kasih yang harus dibaca secara profetik”. Menurutnya, solidaritas kepada Palestina tidak boleh hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi harus menjadi cermin bagi nurani bangsa Indonesia, yang saat ini sedang diuji oleh berbagai krisis moral dan sosial.
1. Solidaritas untuk Palestina: Tindakan Iman, Moral, dan Kemanusiaan
Arpandi menegaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar isu internasional, tetapi tragedi kemanusiaan yang menuntut respons moral semua umat beriman. Persembahan Natal Nasional yang diarahkan kepada Palestina adalah:
tindakan iman, karena Natal mengajarkan kasih kepada yang tertindas;
tindakan moral, karena penderitaan mereka harus disentuh oleh nurani global;
tindakan politik kemanusiaan, karena Indonesia sebagai bangsa besar memiliki tanggung jawab moral di percaturan dunia.
Namun, Arpandi mengingatkan bahwa bantuan tersebut tidak boleh berhenti pada seremoni.
“Kita memberi untuk Palestina karena hati nurani kita terpanggil. Tetapi pertanyaannya: apakah hati nurani yang sama juga bekerja untuk rakyat kita sendiri…?” ujarnya.
2. Kritik Profetik terhadap Situasi Dalam Negeri: Bangsa yang Terancam Mati Nurani
Menurut Arpandi, pesan Natal selalu mengandung suara profetik, yakni teguran keras bagi mereka yang berada di dalam struktur kekuasaan maupun masyarakat yang mulai kehilangan sensitivitas moral.
Ia menyoroti sejumlah persoalan dalam negeri yang menggambarkan gejala “mati hati nurani”, yaitu:
a. Ketimpangan sosial yang semakin melebar
Ditengah pembangunan kota-kota besar dan investasi besar-besaran, masih banyak rakyat yang berjuang untuk kebutuhan dasar. Sementara itu, praktik korupsi terus terjadi, memperlihatkan kehilangan rasa malu oleh para pejabat.
b. Politik transaksional yang menghilangkan nilai moral
Dalam banyak momentum politik, suara rakyat seringkali dipertukarkan dengan uang, jabatan, atau fasilitas. Politik kehilangan roh pelayanan.
c. Degradasi moral dalam birokrasi dan kekuasaan
Arpandi , menegaskan bahwa ketika pejabat publik lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada memperjuangkan keadilan, maka mereka sesungguhnya telah kehilangan hati nurani.
d. Konflik sosial dan marjinalisasi rakyat kecil
Mulai dari masalah agraria, eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan, persoalan ketidakadilan di daerah pedalaman, hingga konflik horizontal yang tidak ditangani secara adil semuanya menunjukkan lemahnya kehadiran negara.
e. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi rakyat
Ketika masyarakat kecil harus bergulat dengan harga pangan yang melonjak, pemerintah justru sibuk dengan narasi keberhasilan ekonomi yang tidak dirasakan oleh rakyat.
“Jika bangsa hanya tersentuh oleh penderitaan luar negeri tetapi membiarkan ketidakadilan menumpuk di rumah sendiri, itu tanda bahwa nurani kita sakit,” tegas Arpandi.
3. Natal Nasional Harus Menjadi Momentum Kebangkitan Moral
GMKI Palangka Raya menegaskan bahwa Natal Nasional tidak boleh berhenti sebagai acara besar penuh dekorasi. Natal harus menjadi:
* panggilan pertobatan sosial,
* titik balik moral bangsa,
* dan suara profetik yang berani menegur struktur kekuasaan.
“Yesus lahir bukan untuk kenyamanan. Ia lahir untuk menegur mereka yang menindas dan membangkitkan yang tertindas. Natal adalah kritik sosial.”, ungkap Arpandi.
Karena itu, ia meminta agar gereja-gereja di Indonesia tidak tenggelam dalam seremoni, tetapi kembali pada tugas profetik: menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara.
4. Persembahan untuk Palestina sebagai Cermin Keadilan
Arpandi menjelaskan bahwa tindakan memberikan persembahan Natal untuk Palestina bukan hanya bentuk kepedulian global, tetapi juga alat untuk menilai arah moral bangsa.
“Kita membantu Palestina, tetapi apakah kita sudah membantu masyarakat adat kita sendiri…?
Kita peduli pada Gaza, tetapi apakah kita peduli pada masyarakat miskin kota ….?
Kita bersuara keras untuk kemanusiaan dunia, tetapi apakah kita cukup keras terhadap ketidakadilan di negeri sendiri?”**
GMKI Palangka Raya melihat bahwa sikap solidaritas internasional harus diiringi dengan tanggung jawab internal. Karena itu, mereka meminta agar pemerintah tidak menggunakan isu internasional sebagai tameng untuk mengabaikan problem domestik.
5. Seruan Profetik GMKI Palangka Raya
Dalam pernyataanya Arpandi menyampaikan tiga seruan penting bagi bangsa:
a. Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia
Harus kembali pada misi profetik, berani menegur ketidakadilan, membela martabat manusia, dan konsisten menyuarakan kebenaran, baik tentang Palestina maupun kondisi rakyat Indonesia.
b. Pemerintah Republik Indonesia
Harus memperhatikan suara rakyat kecil, memastikan kebijakan pembangunan tidak melukai masyarakat miskin, menghentikan praktik kezaliman birokrasi, dan menjaga komitmen kemanusiaan baik di dalam maupun di luar negeri.
c. Kaum muda dan mahasiswa
Dipanggil untuk menjaga integritas, tidak tunduk pada politik uang, menjadi agen perubahan, dan terus meneriakkan kebenaran meski tidak populer.
“Suara profetik tidak boleh padam. Jika mahasiswa diam, maka keadilan akan semakin jauh dari rakyat,” pungkasnya.
Dengan ini, GMKI Palangka Raya menegaskan kembali bahwa Natal Nasional harus dimaknai secara lebih mendalam. Persembahan untuk Palestina adalah tindakan mulia, tetapi bangsa ini juga harus kembali menyalakan hati nuraninya, agar keadilan dan kemanusiaan tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. (*/rls/AI-red)

