LINTAS KALIMANTAN | Palangka Raya — Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir memicu keluhan masyarakat. Warga mengaku kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis Pertalite dan solar, akibat terbatasnya stok dan tingginya antrean di lapangan.
Pantauan di sejumlah SPBU pada hari Kamis pagi 7 Mei 3026 , antrean kendaraan roda dua maupun roda empat tampak mengular hingga keluar area pengisian. Di beberapa titik, antrean bahkan memakan badan jalan dan menyebabkan perlambatan arus lalu lintas, khususnya pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Kondisi tersebut membuat banyak warga harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM. Tidak sedikit pengendara yang memilih berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain karena khawatir stok habis sebelum giliran mereka tiba.
Seorang pengemudi ojek online di Palangka Raya, Rahmat (32), mengaku harus mengurangi jam kerja akibat sulit memperoleh BBM dalam dua hari terakhir. Ia mengatakan antrean panjang membuat waktu operasionalnya banyak terbuang di SPBU.
“Biasanya pagi langsung narik penumpang, sekarang harus antre dulu. Kadang satu sampai dua jam baru dapat. Kalau begini terus, pendapatan kami pasti turun,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Siti Nurhayati (41), warga Jalan Yos Sudarso, yang mengaku harus mendatangi tiga SPBU berbeda sebelum akhirnya berhasil mengisi BBM untuk sepeda motornya.
“Di SPBU pertama katanya Pertalite habis, pindah ke tempat lain antreannya sangat panjang. Kami jadi kesulitan karena kendaraan dipakai untuk aktivitas sehari-hari,” katanya.
Menurut warga, antrean panjang mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir dan terus meningkat seiring banyaknya masyarakat yang khawatir kehabisan BBM. Sebagian pengendara bahkan memilih mengantre sejak pagi untuk memastikan kendaraan mereka bisa terisi bahan bakar.
Selain di SPBU, dampak keterbatasan BBM juga dirasakan para pedagang eceran di pinggir jalan. Stok BBM dalam botol maupun jeriken yang biasa dijual kepada masyarakat disebut ikut menipis bahkan habis.
Bandi (45), penjual BBM eceran di kawasan Jalan G. Obos, mengatakan dirinya kesulitan memperoleh pasokan karena distribusi di lapangan tidak normal seperti biasanya.
“Biasanya kami masih bisa beli untuk stok eceran, sekarang susah sekali dapatnya. Banyak pelanggan datang, tapi stok kosong,” kata Bandi.
Ia menyebut warga yang biasanya membeli BBM eceran untuk kebutuhan darurat kini juga ikut terdampak. Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat semakin bergantung pada SPBU yang saat ini sedang dipadati antrean kendaraan.
Di sejumlah ruas jalan kota, beberapa pengendara bahkan terlihat mendorong sepeda motor karena kehabisan BBM saat sedang mencari SPBU yang masih memiliki stok. Pemandangan itu terlihat terutama di kawasan padat lalu lintas dan sekitar pusat kota.
Pelaku usaha kecil juga mulai merasakan dampak dari kondisi tersebut. Andi Saputra (38), pemilik usaha katering di Palangka Raya, mengatakan distribusi pesanan menjadi terganggu karena kendaraan operasional sulit mendapatkan BBM tepat waktu.
“Kami harus atur ulang jadwal pengantaran karena mobil operasional ikut antre lama di SPBU. Kalau terlambat terus tentu pelanggan bisa kecewa,” ujarnya.
Warga berharap persoalan distribusi dan ketersediaan BBM dapat segera ditangani agar aktivitas masyarakat kembali normal. Mereka juga meminta pemerintah daerah maupun pihak terkait memberikan penjelasan terbuka mengenai penyebab antrean panjang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Kalau memang ada kendala distribusi, masyarakat sebaiknya diberi penjelasan supaya tidak panik. Yang penting stok cepat normal lagi,” kata seorang warga lainnya, Rudi Hartono (50).
Hingga Rabu malam, antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah SPBU di Kota Palangka Raya. Masyarakat berharap pasokan BBM segera stabil agar mobilitas warga dan aktivitas ekonomi tidak terus terganggu. (*/rls/sgn/red(







