SENYAP..!!! Satgas PKH Bidik Barito Utara, PT ABBR di Patok Negara Ambil Alih Penguasaan Lahan

- Jurnalis

Sabtu, 11 April 2026 - 19:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTASKALIMANTAN.CO | Langkah tegas kembali ditunjukkan pemerintah melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan dengan menghentikan aktivitas pertambangan milik PT Alam Bahtera Barito Raya (ABBR) di wilayah Benao, Kecamatan Lahei Barat, Kabupaten Barito Utara (Kalteng). Penghentian ini bukan sekadar penertiban biasa, melainkan penegasan bahwa kawasan tersebut kini berada dalam penguasaan Negara..

Di lapangan, pemasangan papan larangan berukuran besar menjadi simbol kuat bahwa aktivitas di areal tersebut tidak lagi diperbolehkan tanpa izin resmi. Dalam papan tersebut disebutkan bahwa area seluas 33.889,5 hektare masuk dalam penguasaan pemerintah Republik Indonesia melalui Satgas PKH. Bahkan, larangan tegas diberlakukan terhadap penguasaan maupun pemindahtanganan lahan tanpa izin.

Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 yang menjadi dasar hukum penertiban kawasan hutan di seluruh Indonesia. Dalam regulasi tersebut, pemerintah diberi kewenangan untuk mengambil alih dan menertibkan aktivitas usaha yang berada di dalam kawasan hutan tanpa legalitas yang jelas atau belum memenuhi ketentuan.

Barito Utara Jadi Titik Penertiban

Wilayah Benao yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik aktivitas pertambangan kini menjadi fokus penindakan. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa aktivitas operasional di lokasi tersebut telah dihentikan, termasuk mobilisasi alat berat dan kegiatan produksi.

Baca Juga :  Dandim 1013/Mtw Bersama FKPD Kabupaten Barito Utara Lakukan Ground Breaking Jembatan Garuda di Desa Liang Buah Kabupaten Barito Utara

Sejumlah pekerja dikabarkan tidak lagi beraktivitas seperti biasa sejak adanya tindakan dari Satgas PKH. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan tenaga kerja lokal yang menggantungkan penghasilan dari sektor tambang.

Isu Legalitas dan Kawasan Hutan

Penertiban ini kuat diduga berkaitan dengan status kawasan yang masuk dalam wilayah hutan Negara. Pemerintah melalui Satgas PKH tengah melakukan penataan ulang terhadap berbagai aktivitas usaha, termasuk pertambangan yang berada di dalam kawasan tersebut.

Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi memberi toleransi terhadap aktivitas yang tidak sesuai dengan aturan, terutama yang berpotensi merusak lingkungan atau melanggar ketentuan kehutanan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Di satu sisi, penertiban ini dipandang sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan dan menegakkan hukum. Namun di sisi lain, dampaknya langsung dirasakan masyarakat sekitar, khususnya para pekerja tambang dan pelaku usaha yang bergantung pada aktivitas PT ABBR.

Baca Juga :  Warga Haragandang Keluhkan Kekosongan Tenaga Kesehatan, Anggota DPRD Minta Pemda Barito Utara Segera Bertindak

Warga berharap adanya solusi dari pemerintah, baik berupa kejelasan status lahan maupun alternatif pekerjaan bagi masyarakat terdampak.

Belum Ada Pernyataan Resmi Perusahaan

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT ABBR belum memberikan keterangan resmi terkait penghentian aktivitas di Benao. Belum diketahui apakah perusahaan akan menempuh langkah hukum, melakukan perbaikan izin, atau menghentikan operasional secara permanen.

Penertiban Berlanjut

Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan menegaskan bahwa penertiban kawasan hutan akan terus dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Pemerintah mengimbau seluruh pihak agar mematuhi regulasi dan tidak melakukan aktivitas tanpa izin di kawasan yang telah ditetapkan.

Kasus di Benao menjadi contoh nyata bahwa pengawasan terhadap pemanfaatan kawasan hutan kini semakin ketat. Pertanyaannya, apakah ini menjadi awal dari penertiban besar-besaran di sektor pertambangan yang selama ini berjalan di wilayah abu-abu?

Perkembangan selanjutnya masih dinantikan, terutama terkait nasib operasional PT ABBR dan dampaknya terhadap masyarakat lokal di wilayah Barito Utara. (*/rls/anung/red).

Berita Terkait

Gubernur Kalteng Perkuat Penanganan Karhutla, Strategi Diperluas dari Darat hingga Udara
Pemilik Lahan Tolak Hasil Rapat Camat Lahei, Desak Bupati Ambil Alih Proses Tali Asih PT NPR
Harga BBM Eceran di Barito Utara Meroket, Warga Pertanyakan Pengawasan dan Kelangkaan Pertalite
Nomor Putusan Tak Dicantumkan, Notulen Pemberian Tali Asih PT NPR Dipertanyakan: Pemilik Lahan Tak Hadir, Potensi Konflik Sosial Mengemuka
Janji PLN Dinilai Tak Terbukti, Aksi Kelima GPG Kembali Guncang Kantor PLN UP3 Palangka Raya
252 Calon Jemaah Ikuti Latihan Manasik Umrah PT Alkamila
H. Man Pemilik Molding di Pangkalan Banteng Klarifikasi Dugaan Pengetapan Solar Bersubsidi di SPBU
Damang Lahei Dampingi Cek Lapangan Sengketa Lahan, Ajak Masyarakat Barito Utara Kedepankan Dialog Damai

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:49 WIB

Gubernur Kalteng Perkuat Penanganan Karhutla, Strategi Diperluas dari Darat hingga Udara

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:45 WIB

Pemilik Lahan Tolak Hasil Rapat Camat Lahei, Desak Bupati Ambil Alih Proses Tali Asih PT NPR

Kamis, 13 Agustus 2026 - 03:37 WIB

Harga BBM Eceran di Barito Utara Meroket, Warga Pertanyakan Pengawasan dan Kelangkaan Pertalite

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:57 WIB

Nomor Putusan Tak Dicantumkan, Notulen Pemberian Tali Asih PT NPR Dipertanyakan: Pemilik Lahan Tak Hadir, Potensi Konflik Sosial Mengemuka

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:21 WIB

Janji PLN Dinilai Tak Terbukti, Aksi Kelima GPG Kembali Guncang Kantor PLN UP3 Palangka Raya

Berita Terbaru

LINTAS NASIONAL

Presiden Prabowo Pimpin Langsung Penanganan Karhutla di Kalimantan

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:12 WIB

You cannot copy content of this page