LINTAS KALIMANTAN | Palangka Raya — Aparat Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Palangka Raya kembali mengungkap praktik peredaran narkotika di wilayah ibu kota Kalimantan Tengah. Seorang pria berinisial AA (35) diamankan setelah diduga kuat terlibat sebagai pengedar sabu dengan barang bukti dalam jumlah besar, mencapai ±195,89 gram.
Pengungkapan kasus ini berlangsung pada Kamis, 30 April 2026 sekitar pukul 12.00 WIB di kawasan Jalan Dr. Murjani Gang Taufik, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut. Penindakan berawal dari laporan masyarakat yang mencurigai adanya aktivitas transaksi narkotika di lokasi tersebut.
Menindaklanjuti informasi itu, petugas segera melakukan penyelidikan tertutup disertai pemantauan intensif di sekitar tempat kejadian. Setelah memastikan adanya indikasi kuat peredaran narkotika, tim bergerak cepat dan berhasil mengamankan tersangka di kediamannya tanpa perlawanan.
Penggeledahan dilakukan secara prosedural dengan disaksikan oleh Ketua RT setempat. Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan ratusan paket sabu yang telah dikemas siap edar.
“Total terdapat 481 paket yang diduga narkotika jenis sabu dengan berat kotor sekitar 195,89 gram,” ungkap Kasatresnarkoba Polresta Palangka Raya, AKP Yonika Winner Te’dang, mewakili Kapolresta Kombes Pol Dedy Supriadi.
Selain sabu, polisi juga menyita sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas peredaran, antara lain kantong plastik, plastik klip ukuran besar, timbangan digital, sendok sabu, tas belanja, dompet kecil, serta satu unit telepon genggam milik tersangka.
Barang bukti tersebut ditemukan di beberapa titik di dalam rumah, termasuk di area jemuran pakaian. Kepada petugas, tersangka mengakui bahwa seluruh barang tersebut berada dalam penguasaannya.
Usai diamankan, tersangka langsung dibawa ke Mapolresta Palangka Raya guna menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Polisi kini masih melakukan pengembangan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas di balik kasus tersebut.
AKP Yonika menegaskan bahwa pengungkapan ini merupakan bagian dari komitmen kepolisian dalam memberantas peredaran narkotika di wilayah hukumnya.
“Kami tidak akan berhenti sampai di sini. Pengembangan terus dilakukan untuk mengungkap jaringan yang lebih besar. Kami juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif memberikan informasi apabila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan terkait narkotika,” tegasnya.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ia terancam hukuman pidana minimal 6 tahun hingga maksimal 20 tahun penjara, bahkan bisa seumur hidup.
Pengungkapan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa peredaran narkotika masih menjadi ancaman serius di daerah, sehingga sinergi antara aparat penegak hukum dan masyarakat dinilai krusial dalam upaya pemberantasannya.(*/rls/hms/red)







