Palangka Raya — Arus globalisasi yang kian deras dinilai berpotensi menggerus nilai-nilai kearifan lokal jika tidak diimbangi dengan penguatan identitas budaya sejak usia dini. Karena itu, penanaman kecintaan terhadap budaya lokal harus dimulai sedini mungkin agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya sebagai anak bangsa.
Hal tersebut disampaikan dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) sekaligus Sekretaris Asosiasi Bawi Dayak, Budaya dan Wisata (ASBADATA) Kota Palangka Raya, Srie Rosmilawati, M.Ikom. Ia menegaskan, khusus bagi generasi Dayak, budaya merupakan fondasi utama pembentukan karakter dan identitas.
“Budaya bukan sekadar simbol atau kegiatan seremonial. Ia adalah ruh yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berperilaku. Jika tidak diwariskan secara konsisten, budaya lokal akan mudah tergeser oleh pengaruh luar yang belum tentu sejalan dengan nilai luhur bangsa,” ujar Srie, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, pengenalan budaya dapat dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari pendidikan formal di sekolah, peran keluarga, hingga lingkungan sosial. Bahasa daerah, adat istiadat, seni budaya, serta nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak perlu terus dihidupkan dalam keseharian anak-anak.
“Ketika jati diri sudah tertanam kuat sejak dini, generasi muda tidak akan mudah terombang-ambing oleh dampak negatif globalisasi,” katanya.
Sebagai pengurus Bawi Dayak Kota Palangka Raya, Srie juga menyoroti peran strategis perempuan Dayak dalam pelestarian budaya. Ia menilai perempuan memiliki posisi penting sebagai garda terdepan dalam mentransfer nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.
“Perempuan Dayak memiliki peran besar dalam menjaga dan meneruskan budaya. Jika kita sendiri tidak bangga dengan budaya kita, maka anak-anak akan lebih mudah mengenal budaya luar dan justru asing dengan identitasnya sendiri,” tegasnya.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Srie berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan, dapat bersinergi menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.
“Budaya yang dicintai sejak dini akan tumbuh menjadi jati diri yang kokoh dan tidak mudah tergantikan oleh perubahan zaman,” pungkasnya.(*/rls/tim/red)







