Perusda di Persimpangan: Antara Beban Daerah atau Mesin Kemandirian?

- Jurnalis

Minggu, 15 Februari 2026 - 15:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTAS KALIMANTAN || Palangka Raya — Pengetatan fiskal dan menipisnya transfer dana pusat seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Di saat ruang anggaran makin sempit, Perusahaan Daerah (Perusda) justru kembali disorot,bukan karena prestasi gemilang, melainkan karena kinerjanya yang masih jauh dari harapan. Padahal, secara konsep, Perusda dibentuk bukan untuk sekadar melengkapi struktur birokrasi, melainkan menjadi tulang punggung kemandirian ekonomi daerah.

 

Di Kalimantan Tengah, potret Perusda di banyak kabupaten dan kota masih memperlihatkan stagnasi. Ketika daerah dituntut mandiri, sebagian perusahaan daerah justru terlihat berjalan di tempat. Mereka ada, tetapi tidak terasa. Mereka dibentuk, tetapi belum sepenuhnya berfungsi. Di tengah tekanan fiskal, kondisi ini bukan sekadar persoalan manajemen, melainkan persoalan keberanian politik dan visi pembangunan.

 

Perusda sejatinya memikul mandat ganda yang tidak ringan. Di satu sisi, mereka harus beroperasi secara komersial, menghasilkan keuntungan nyata yang berkontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di sisi lain, mereka memikul tanggung jawab pelayanan publik,mulai dari air bersih, pengelolaan pasar, hingga layanan transportasi. Dua fungsi ini menuntut keseimbangan antara profesionalisme bisnis dan kepentingan masyarakat.

Baca Juga :  Kapolres Kotim menerima Penyerahan Jabatan Kasat Binmas.

 

Masalahnya, keseimbangan itu kerap tidak tercapai. Tidak sedikit Perusda yang gagal menjalankan fungsi komersial secara optimal, sementara pelayanan publik pun belum sepenuhnya memuaskan. Aset daerah yang seharusnya menjadi mesin produktif sering kali hanya menjadi catatan di atas kertas.

 

Tanah, bangunan, dan potensi usaha yang besar tidak menghasilkan nilai tambah signifikan. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah Perusda dikelola sebagai entitas bisnis yang serius, atau sekadar perpanjangan tangan birokrasi yang sarat kepentingan?

 

Ketua Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia Wilayah Kalimantan Tengah, Picrol Hidayat, mengingatkan bahwa berkurangnya transfer pusat seharusnya menjadi momentum pembenahan, bukan alasan untuk stagnasi. Ia menegaskan bahwa Perusda tidak boleh hanya menjadi beban administrasi tanpa kontribusi nyata terhadap PAD.(15/02/2026)

 

Pernyataan itu bukan sekadar kritik, melainkan cermin realitas. Jika Perusda tidak menghasilkan pendapatan, maka beban keuangan daerah justru bertambah. Jika Perusda tidak memberikan layanan berkualitas, maka masyarakat yang dirugikan. Dalam situasi seperti ini, mempertahankan status quo sama artinya dengan membiarkan potensi daerah terbuang sia-sia.

Baca Juga :  Chairil Anwar Ikut Hadiri Musda Ke XI Golkar Se kalsel

 

Padahal, setiap kabupaten di Kalimantan Tengah memiliki kekayaan ekonomi yang khas,sumber daya alam, perdagangan, jasa, hingga sektor pariwisata yang belum tergarap maksimal. Dengan tata kelola yang transparan, manajemen profesional, dan strategi bisnis yang berani berinovasi, Perusda bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal. Mereka dapat membuka lapangan kerja, memperkuat perputaran ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

Namun, optimalisasi Perusda tidak cukup hanya dengan mengganti direksi atau menyusun rencana bisnis di atas kertas. Dibutuhkan pembenahan menyeluruh: dari rekrutmen berbasis kompetensi, pengawasan yang ketat, hingga keberanian memutus praktik lama yang tidak produktif. Perusda harus diperlakukan sebagai entitas bisnis yang profesional, bukan ruang kompromi politik.

 

Pada akhirnya, keberhasilan Perusda akan menjadi cermin sejauh mana daerah mampu berdiri di atas kaki sendiri. Di tengah keterbatasan fiskal, pilihan hanya dua: menjadikan Perusda sebagai mesin kemandirian atau membiarkannya tetap menjadi beban. Waktu untuk menunda sudah habis. Jika daerah ingin mandiri, maka Perusda harus berani berubah,atau ditinggalkan oleh relevansi zaman.

Berita Terkait

Kasus ISPA Palangka Raya Tembus 6.041, Kabut Asap Karhutla Jadi Sorotan
Sugie Gerakkan APPI Kalteng, Siapkan Kopdar Perdana
Tambun Bungai Run Bergemuruh, Agustiar Sabran Serukan Semangat Bersama Menuju Indonesia Emas Menulis
Kapolda Kalteng Hadiri Syukuran HUT ke-69 Yansen A. Binti, Tekankan Sinergi Jaga Kamtibmas
“Tembus Pelosok Kotabaru, Kodim 1004 Bangun Jembatan dan Buka Akses Warga”
Inovasi SKPD Kotabaru Digenjot, Bapperida Bidik Juara IGA
Klinik Lapas Kotabaru Resmi Jadi FKTP, Layanan Kesehatan Warga Binaan Naik Kelas
Peringati 1 Tahun Kodam XXII TB,Agustan Saining: Jaga Hutan Kalteng Tak Bisa Sendiri, Sinergi TNI dan Pemda Harus Diperkuat

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Kasus ISPA Palangka Raya Tembus 6.041, Kabut Asap Karhutla Jadi Sorotan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Sugie Gerakkan APPI Kalteng, Siapkan Kopdar Perdana

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:32 WIB

Tambun Bungai Run Bergemuruh, Agustiar Sabran Serukan Semangat Bersama Menuju Indonesia Emas Menulis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:52 WIB

Kapolda Kalteng Hadiri Syukuran HUT ke-69 Yansen A. Binti, Tekankan Sinergi Jaga Kamtibmas

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:25 WIB

“Tembus Pelosok Kotabaru, Kodim 1004 Bangun Jembatan dan Buka Akses Warga”

Berita Terbaru

LINTAS HUKUM

Minggu, 23 Agu 2026 - 06:57 WIB

LINTAS DAERAH

MTQH Kobar Dorong Generasi Muda Cintai Al-Qur’an

Sabtu, 22 Agu 2026 - 23:22 WIB

LINTAS NASIONAL

Presiden Prabowo Pimpin Langsung Penanganan Karhutla di Kalimantan

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:12 WIB

You cannot copy content of this page