LINTAS KALIMANTAN | SEKADAU, KALIMANTAN BARAT — Tim SAR gabungan yang dipimpin oleh TNI Angkatan Udara (TNI AU) berhasil menuntaskan proses evakuasi delapan korban meninggal dunia dari lokasi jatuhnya helikopter sipil PK-CFX di wilayah perbukitan Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Jumat (17/4/2026). Operasi kemanusiaan yang berlangsung di medan berat itu menjadi sorotan atas kerja cepat dan terkoordinasi lintas instansi dalam menjangkau lokasi yang sulit diakses.
Proses evakuasi dilakukan sebagai kelanjutan dari operasi pencarian setelah helikopter milik PT Matthew Air Nusantara tersebut ditemukan dalam kondisi hancur di kawasan perbukitan yang dipenuhi vegetasi lebat. Medan terjal dan minim akses darat menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat dalam menjalankan misi.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, mengonfirmasi bahwa seluruh korban telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian dan selanjutnya dibawa menuju Pangkalan Udara (Lanud) Supadio, Pontianak.
“Seluruh korban telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke Lanud Supadio untuk proses penanganan medis serta identifikasi lebih lanjut,” ujarnya.
Operasi SAR melibatkan unsur gabungan dari TNI AU, Basarnas, personel Kopasgat, aparat kepolisian, serta unsur pemerintah daerah setempat. Dalam misi tersebut, TNI AU mengerahkan helikopter NAS-332 Super Puma untuk mendukung pencarian dari udara sekaligus mempercepat proses evakuasi korban dari area pegunungan.
Sejak laporan hilang kontak diterima pada Kamis (16/4/2026) pagi, tim SAR langsung bergerak melakukan penyisiran intensif. Helikopter nahas itu diketahui tengah melakukan penerbangan dari Bandara Sintang menuju Kubu Raya dengan membawa delapan orang, terdiri dari dua kru dan enam penumpang.
Sinyal terakhir pesawat diketahui berada di sekitar wilayah perbukitan sebelum komunikasi terputus sepenuhnya. Informasi tersebut menjadi dasar utama bagi tim pencarian untuk memusatkan operasi di area yang diduga menjadi lokasi jatuhnya helikopter.
Pencarian dari udara dilakukan secara intensif dengan memanfaatkan teknologi pemantauan koordinat dan observasi visual. Setelah beberapa jam penyisiran, tim akhirnya menemukan titik lokasi bangkai helikopter di tengah kawasan hutan perbukitan yang rimbun.
Meski lokasi telah ditemukan, proses evakuasi tidak berlangsung mudah. Tim SAR harus menghadapi medan ekstrem dengan lereng curam, pepohonan lebat, serta kondisi cuaca yang berubah-ubah.
Personel Kopasgat bersama tim Basarnas diterjunkan untuk melakukan akses langsung ke titik jatuhnya pesawat. Dengan peralatan khusus, para personel bekerja secara hati-hati untuk memastikan proses pengangkatan korban dapat dilakukan secara aman.
Marsma TNI I Nyoman Suadnyana menegaskan bahwa keselamatan tim penyelamat menjadi prioritas utama selama operasi berlangsung.
“Medan di lokasi sangat menantang, namun seluruh personel bekerja maksimal dengan tetap mengedepankan faktor keselamatan,” katanya.
Keberhasilan evakuasi seluruh korban dinilai sebagai hasil dari sinergi yang kuat antara unsur militer, Basarnas, dan tim pendukung lainnya. Operasi ini sekaligus menunjukkan kesiapsiagaan personel SAR dalam menghadapi situasi darurat di wilayah terpencil.
Setelah seluruh korban berhasil dievakuasi, fokus penanganan kini beralih pada proses identifikasi di Lanud Supadio. Tim medis dan forensik akan melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan identitas para korban sebelum diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Di sisi lain, otoritas penerbangan bersama pihak berwenang juga mulai melakukan investigasi mendalam terkait penyebab kecelakaan. Pemeriksaan terhadap puing-puing helikopter, sistem navigasi, serta kemungkinan faktor cuaca dan gangguan teknis menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Tragedi jatuhnya helikopter PK-CFX ini meninggalkan duka mendalam bagi dunia penerbangan sipil nasional. Sejumlah pihak turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengapresiasi kerja keras tim SAR gabungan yang berhasil menuntaskan misi kemanusiaan tersebut. (*/rls/tim/red)








