LINTASKALIMANTAN.CO | Perayaan Jumat Agung di Gereja Katolik ST. Montfort PIR Butong, Desa Bukit Sawit, Kecamatan Teweh Selatan, berlangsung khidmat dan penuh penghayatan. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Arnoldus, pegawai staf desa Bukit Sawit, yang dipercaya memerankan Yesus Kristus dalam drama Jalan Salib.
Bagi Arnoldus, peran tersebut bukan sekadar bagian dari seremoni keagamaan, melainkan menjadi pengalaman spiritual yang sangat mendalam. Ia mengaku momen tersebut menjadi titik refleksi dalam perjalanan hidupnya.
“Pengalaman ini benar-benar menyentuh hati saya. Saya semakin menyadari betapa besar pengorbanan Yesus bagi umat manusia,” ungkap Arnoldus kepada media ini di Muara Teweh Senin (06/04/26).

Dalam pementasan tersebut, Arnoldus menjalani berbagai adegan penuh emosi, mulai dari olok-olok, pencambukan, hingga penyaliban. Ia bahkan mengaku mendalami peran secara total, termasuk saat adegan dicambuk tanpa menggunakan alas.
“Saya mencoba menghayati setiap adegan, terutama saat dicambuk. Dari situ saya bisa merasakan, walaupun hanya sedikit, bagaimana penderitaan Yesus saat menanggung beban dosa manusia,” jelasnya.
Ia menambahkan, rasa sakit fisik yang dirasakan saat adegan tersebut tidak sebanding dengan makna yang ia peroleh. Justru dari situ, ia semakin tersadar akan kelemahan manusia yang kerap jatuh dalam dosa.

“Sebagai manusia, kita punya keterbatasan dan sering kali jatuh dalam dosa. Tapi Yesus sudah menanggung semua itu untuk kita,” katanya.
Arnoldus juga mengaku merasakan kesedihan mendalam saat menjalani adegan-adegan penderitaan tersebut.
“Waktu adegan diolok-olok, dicambuk, sampai disalib, rasanya sakit dan sedih. Itu benar-benar saya rasakan,” ujarnya.

Melalui pengalaman ini, Arnoldus bertekad untuk memperbaiki diri dan menjalani hidup dengan lebih baik ke depannya.
“Ke depan, saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan,” tutupnya.
Perayaan Jumat Agung di Gereja Katolik ST. Montfort PIR Butong sendiri menjadi momen penting bagi umat untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus, sekaligus memperkuat iman dan refleksi diri dalam kehidupan sehari-hari. (*/rls/peli/red)







