LINTAS KALIMANTAN | PALANGKA RAYA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menjadi perhatian serius masyarakat di Kalimantan Tengah. Sebagai komoditas vital yang menopang aktivitas transportasi, distribusi logistik, hingga operasional usaha kecil, perubahan harga BBM dinilai membawa dampak berantai terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama di Kota Palangka Raya dan sejumlah wilayah penyangga.
Di lapangan, dampak tersebut mulai dirasakan dari naiknya ongkos transportasi, biaya distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok yang perlahan mengalami penyesuaian.
Sejumlah pedagang di pasar tradisional Pasar kahayan Kota Palangka Raya mengaku biaya pengiriman bahan pangan dari daerah pemasok mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini berpotensi mendorong harga sembako ikut meningkat.
Salah seorang warga Palangka Raya, Siti Rahma (38), yang di temui di pasar kahayan saat berbelanja mengaku mulai merasakan perubahan pengeluaran rumah tangga setelah harga BBM naik.
“Yang paling terasa itu belanja harian. Harga sayur, ikan, dan beras mulai naik sedikit demi sedikit. Ongkos antar anak sekolah juga bertambah. Kalau pendapatan tetap, tentu kami harus lebih hemat,” ujarnya saat ditemui di kawasan Pasar Besar Palangka Raya, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi pribadi, tetapi juga langsung memengaruhi kebutuhan pokok keluarga.
“Biasanya uang belanja cukup untuk satu minggu, sekarang harus diatur lebih ketat. Kami kurangi belanja yang tidak terlalu penting,” tambahnya.
Ongkos Angkutan dan Logistik Mulai Disesuaikan
Dampak paling cepat terlihat juga terjadi pada sektor transportasi dan jasa angkutan barang. Para pelaku usaha jasa transportasi mengaku biaya operasional meningkat, terutama untuk kendaraan yang setiap hari melayani distribusi barang dan penumpang di dalam kota maupun antarwilayah.
Pemilik jasa angkutan barang di Palangka Raya, Rudi Hartono, mengatakan kenaikan BBM memaksa pelaku usaha menghitung ulang tarif jasa.
“Biaya solar atau pertalite itu komponen terbesar operasional kami. Kalau harga BBM naik, otomatis ongkos kirim barang juga harus disesuaikan. Kalau tidak, usaha bisa merugi,” katanya.
Ia menjelaskan, kenaikan tarif jasa angkutan menjadi pilihan yang sulit, karena di sisi lain daya beli masyarakat juga sedang tertekan.
“Kami juga memahami kondisi pelanggan, terutama UMKM yang sering kirim barang. Jadi penyesuaian tarif dilakukan bertahap agar tidak terlalu memberatkan,” ujarnya.
Menurut Rudi, kenaikan biaya distribusi ini pada akhirnya akan memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.
UMKM dan Pedagang Kecil Paling Rentan
Kondisi serupa juga dirasakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Palangka Raya. Banyak pelaku usaha yang masih bergantung pada kendaraan bermotor untuk distribusi barang maupun bahan baku.
Seorang pedagang makanan keliling yang buka jualan di pinggir jalan Yos Sudarso Palangkaraya, Mulyono (45), mengatakan biaya operasional harian meningkat cukup signifikan.
“Setiap hari saya keliling jualan pakai motor. Kalau BBM naik, modal otomatis bertambah. Tapi harga jual tidak bisa langsung dinaikkan karena takut pelanggan berkurang,” katanya.
Menurutnya, margin keuntungan kini semakin tipis sehingga pelaku usaha kecil harus lebih cermat mengatur pengeluaran.
“Keuntungan jelas berkurang. Kadang kami terpaksa mengurangi jumlah produksi supaya modal tetap aman,” ujarnya.
Daya Beli Masyarakat Terancam Menurun
Pengamat ekonomi lokal menilai kenaikan BBM berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.
Ketika pengeluaran untuk kebutuhan primer seperti transportasi, listrik, dan bahan pangan meningkat, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi barang sekunder.
Hal ini berisiko memperlambat perputaran ekonomi di tingkat daerah, termasuk di Kalimantan Tengah yang sebagian besar aktivitas ekonominya masih ditopang sektor perdagangan, jasa, dan UMKM.
Warga Palangka Raya lainnya, Ahmad Fauzi (41), mengatakan dirinya mulai menunda beberapa kebutuhan rumah tangga.
“Kalau dulu bisa menyisihkan untuk beli kebutuhan lain, sekarang fokus ke yang penting dulu seperti makan, transportasi, dan sekolah anak,” katanya.
Masyarakat Mulai Melirik Energi Alternatif
Di tengah fluktuasi harga energi fosil, sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif yang lebih hemat dan stabil dalam jangka panjang.
Kesadaran untuk menggunakan kendaraan listrik maupun sumber energi mandiri seperti panel surya perlahan mulai tumbuh, terutama di kalangan pelaku usaha dan rumah tangga menengah.
Langkah ini dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM yang harganya kerap berubah mengikuti kondisi pasar global.
Kesimpulan
Kenaikan harga BBM memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah, mulai dari naiknya ongkos transportasi, harga kebutuhan pokok, hingga tekanan terhadap pelaku UMKM.
Di Kota Palangka Raya, masyarakat kini dituntut lebih adaptif dalam mengatur keuangan rumah tangga dan usaha agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya hidup. (*/rls/Sugian/red)








