Kenaikan Harga BBM Tekan Daya Beli Warga Kalteng, Ongkos Angkutan hingga Harga Sembako Mulai Merangkak Naik

- Jurnalis

Senin, 20 April 2026 - 18:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTAS KALIMANTAN | PALANGKA RAYA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menjadi perhatian serius masyarakat di Kalimantan Tengah. Sebagai komoditas vital yang menopang aktivitas transportasi, distribusi logistik, hingga operasional usaha kecil, perubahan harga BBM dinilai membawa dampak berantai terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama di Kota Palangka Raya dan sejumlah wilayah penyangga.

Di lapangan, dampak tersebut mulai dirasakan dari naiknya ongkos transportasi, biaya distribusi barang, hingga harga kebutuhan pokok yang perlahan mengalami penyesuaian.

Sejumlah pedagang di pasar tradisional Pasar kahayan Kota Palangka Raya mengaku biaya pengiriman bahan pangan dari daerah pemasok mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini berpotensi mendorong harga sembako ikut meningkat.

Salah seorang warga Palangka Raya, Siti Rahma (38), yang di temui di pasar kahayan saat berbelanja mengaku mulai merasakan perubahan pengeluaran rumah tangga setelah harga BBM naik.

“Yang paling terasa itu belanja harian. Harga sayur, ikan, dan beras mulai naik sedikit demi sedikit. Ongkos antar anak sekolah juga bertambah. Kalau pendapatan tetap, tentu kami harus lebih hemat,” ujarnya saat ditemui di kawasan Pasar Besar Palangka Raya, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi pribadi, tetapi juga langsung memengaruhi kebutuhan pokok keluarga.

“Biasanya uang belanja cukup untuk satu minggu, sekarang harus diatur lebih ketat. Kami kurangi belanja yang tidak terlalu penting,” tambahnya.

Ongkos Angkutan dan Logistik Mulai Disesuaikan

Dampak paling cepat terlihat juga terjadi pada sektor transportasi dan jasa angkutan barang. Para pelaku usaha jasa transportasi mengaku biaya operasional meningkat, terutama untuk kendaraan yang setiap hari melayani distribusi barang dan penumpang di dalam kota maupun antarwilayah.

Baca Juga :  Polresta Palangka Raya Tindaklanjuti terkait Video Viral di Medsos

Pemilik jasa angkutan barang di Palangka Raya, Rudi Hartono, mengatakan kenaikan BBM memaksa pelaku usaha menghitung ulang tarif jasa.

“Biaya solar atau pertalite itu komponen terbesar operasional kami. Kalau harga BBM naik, otomatis ongkos kirim barang juga harus disesuaikan. Kalau tidak, usaha bisa merugi,” katanya.

Ia menjelaskan, kenaikan tarif jasa angkutan menjadi pilihan yang sulit, karena di sisi lain daya beli masyarakat juga sedang tertekan.

“Kami juga memahami kondisi pelanggan, terutama UMKM yang sering kirim barang. Jadi penyesuaian tarif dilakukan bertahap agar tidak terlalu memberatkan,” ujarnya.

Menurut Rudi, kenaikan biaya distribusi ini pada akhirnya akan memengaruhi harga barang di tingkat konsumen.

UMKM dan Pedagang Kecil Paling Rentan

Kondisi serupa juga dirasakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Palangka Raya. Banyak pelaku usaha yang masih bergantung pada kendaraan bermotor untuk distribusi barang maupun bahan baku.

Seorang pedagang makanan keliling yang buka jualan di pinggir jalan Yos Sudarso Palangkaraya, Mulyono (45), mengatakan biaya operasional harian meningkat cukup signifikan.

“Setiap hari saya keliling jualan pakai motor. Kalau BBM naik, modal otomatis bertambah. Tapi harga jual tidak bisa langsung dinaikkan karena takut pelanggan berkurang,” katanya.

Menurutnya, margin keuntungan kini semakin tipis sehingga pelaku usaha kecil harus lebih cermat mengatur pengeluaran.

“Keuntungan jelas berkurang. Kadang kami terpaksa mengurangi jumlah produksi supaya modal tetap aman,” ujarnya.

Baca Juga :  Momen Ramadan, Kapolresta Palangka Raya Buka Puasa Bersama OKP dan Serikat Buruh

Daya Beli Masyarakat Terancam Menurun

Pengamat ekonomi lokal menilai kenaikan BBM berpotensi menekan daya beli masyarakat apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

Ketika pengeluaran untuk kebutuhan primer seperti transportasi, listrik, dan bahan pangan meningkat, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi barang sekunder.

Hal ini berisiko memperlambat perputaran ekonomi di tingkat daerah, termasuk di Kalimantan Tengah yang sebagian besar aktivitas ekonominya masih ditopang sektor perdagangan, jasa, dan UMKM.

Warga Palangka Raya lainnya, Ahmad Fauzi (41), mengatakan dirinya mulai menunda beberapa kebutuhan rumah tangga.

“Kalau dulu bisa menyisihkan untuk beli kebutuhan lain, sekarang fokus ke yang penting dulu seperti makan, transportasi, dan sekolah anak,” katanya.

Masyarakat Mulai Melirik Energi Alternatif

Di tengah fluktuasi harga energi fosil, sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan penggunaan energi alternatif yang lebih hemat dan stabil dalam jangka panjang.

Kesadaran untuk menggunakan kendaraan listrik maupun sumber energi mandiri seperti panel surya perlahan mulai tumbuh, terutama di kalangan pelaku usaha dan rumah tangga menengah.

Langkah ini dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM yang harganya kerap berubah mengikuti kondisi pasar global.

Kesimpulan

Kenaikan harga BBM memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah, mulai dari naiknya ongkos transportasi, harga kebutuhan pokok, hingga tekanan terhadap pelaku UMKM.

Di Kota Palangka Raya, masyarakat kini dituntut lebih adaptif dalam mengatur keuangan rumah tangga dan usaha agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya hidup. (*/rls/Sugian/red)

Berita Terkait

Penyelesaian Polemik Zheze Galuh Ditempuh Lewat Jalur Adat, Damang Pahandut Siapkan Prosesi Perdamaian
KPHP Barito Hilir Belum Beri Klarifikasi soal Surat Pemanfaatan Kayu PT BPM, Transparansi Dipertanyakan
Dishut Kalteng Perkuat Basis Data Konservasi Orangutan, Agustan Saining: Kebijakan Harus Berlandaskan Data Valid
Di Hari Jadi ke-69, Davidson Lambung Optimistis Palangka Raya Semakin Maju
Perkuat Ketahanan Keluarga, Rumah Pintar Askari dan Dinas P3APPKB Kapuas Gelar Parenting Lintas Sektoral
“Dulu Gemerlap, Kini Gelap — Nasib Lampu Hias Jembatan Kahayan yang Dirindukan Warga Palangka Raya”
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Agustan Saining Ajak Jadikan Semangat Hijrah sebagai Penguat Integritas dan Pengabdian
Agustiar Sabran Lepas Kontingen Pesparawi Kalteng ke Ajang Nasional, Tekankan Disiplin dan Semangat Kebersamaan

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 19:53 WIB

Penyelesaian Polemik Zheze Galuh Ditempuh Lewat Jalur Adat, Damang Pahandut Siapkan Prosesi Perdamaian

Senin, 22 Juni 2026 - 16:04 WIB

KPHP Barito Hilir Belum Beri Klarifikasi soal Surat Pemanfaatan Kayu PT BPM, Transparansi Dipertanyakan

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:05 WIB

Dishut Kalteng Perkuat Basis Data Konservasi Orangutan, Agustan Saining: Kebijakan Harus Berlandaskan Data Valid

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:01 WIB

Di Hari Jadi ke-69, Davidson Lambung Optimistis Palangka Raya Semakin Maju

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:56 WIB

Perkuat Ketahanan Keluarga, Rumah Pintar Askari dan Dinas P3APPKB Kapuas Gelar Parenting Lintas Sektoral

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page