Imanuel Nuhan: Dari Tanah Dayak, Menyeberangi Laut, hingga Terjun dari Langit Kalimantan Untuk Mengusir Penjajah 

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTAS KALIMANTAN | Mengenang perjuangan Imanuel Nuhan, putra asli Dayak Kalimantan Tengah yang menjadi salah satu dari 13 prajurit dalam penerjunan payung pertama Indonesia pada 17 Oktober 1947.

 

Agustus selalu mengajak kita kembali mengingat arti kemerdekaan.

Di balik merah putih yang berkibar, ada kisah panjang tentang orang-orang yang mempertaruhkan hidupnya agar Republik Indonesia tetap berdiri.

Salah satunya adalah Imanuel Nuhan, putra asli Dayak Kalimantan Tengah dari Desa Tewa.

Namanya mungkin tidak banyak dikenal oleh generasi sekarang. Namun perjalanan hidupnya menyimpan bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa, khususnya sejarah perjuangan dan penerjunan pasukan di Kalimantan.

Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu penerjun pertama Indonesia, Imanuel telah lebih dahulu menjalani kehidupan sebagai pejuang.

Ia mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat, kemudian berangkat ke Pulau Jawa untuk belajar di sekolah pelayaran. Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat menjadi tentara Jepang.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, arah hidupnya berubah.

Imanuel memilih bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan turut terlibat dalam perjuangan di Surabaya dan wilayah sekitarnya.

Perjalanan perjuangannya kemudian berlanjut bersama ALRI Divisi 4 Tuban.

Dari Tuban, Imanuel pernah dikirim menuju Kalimantan menggunakan perahu layar.

Ia kembali ke tanah kelahirannya bukan untuk menjalani kehidupan biasa, tetapi untuk ikut mempertahankan kemerdekaan.

Di Kalimantan, ia terlibat dalam perjuangan dan pertempuran di sejumlah wilayah, termasuk Teluk Bogam, Sungai Luci, Sungai Tabuk, dan Pangkalan Bun.

Kalimantan yang ia kenal sejak kecil berubah menjadi medan perjuangan.

Hutan, sungai, laut dan kampung-kampung menjadi bagian dari perjalanan seorang pemuda Dayak yang memilih berdiri bersama Republik.

Setelah kembali ke Tuban, perjalanan Imanuel memasuki babak baru.

Ia kemudian bergabung dengan kesatuan yang dalam perkembangan sejarahnya menjadi bagian dari Kopasgat TNI Angkatan Udara.

Dan sebuah tugas besar menantinya.

Baca Juga :  Warnai HUT ke-24, Rumkit Bhayangkara Polda Kalteng Gelar Jalan Sehat Dan Syukuran Bersama Personel

17 Oktober 1947

Sebuah pesawat C-47 Dakota RI-002 membawa 13 prajurit menuju wilayah Sambi, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Di antara mereka terdapat Imanuel Nuhan.

Pesawat tersebut dipiloti Bob Freeberg, didampingi kopilot Opsir Udara III Suhodo, dengan Opsir Muda Udara III Amir Hamzah sebagai jump master.

Ke-13 prajurit yang diterjunkan adalah Hari Hadi Sumantri, FM Soejoto, Iskandar, Ahmad Kosasih, Bachri, J. Bitak, C. Williem, Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J.H. Darius, Marawi, dan Imanuel Nuhan.

Mereka menghadapi sebuah kenyataan yang luar biasa.

Sebagian besar belum pernah melakukan penerjunan dari pesawat.

Bekal mereka hanyalah teori dan latihan dasar di darat.

Namun tugas negara harus dilaksanakan.

Ketika pintu Dakota terbuka, mereka melompat menuju tanah Kalimantan.

Termasuk Imanuel Nuhan.

Penerjunan tersebut bukan sekadar operasi militer.

Mereka membawa misi membantu perjuangan gerilya rakyat Kalimantan, membangun jaringan komunikasi radio antara Kalimantan dan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta, serta mempersiapkan wilayah penerjunan untuk mendukung operasi berikutnya.

Peristiwa 17 Oktober 1947 itu kemudian dikenang sebagai operasi lintas udara pertama TNI dan menjadi salah satu tonggak sejarah perkembangan pasukan tempur darat matra udara yang kemudian dikenal sebagai Paskhas TNI Angkatan Udara.

Dari Tanah Dayak ke Langit Sambi

Ada sesuatu yang istimewa dalam perjalanan Imanuel Nuhan.

Ia adalah putra Dayak Kalimantan Tengah yang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang pejuang.

Ia berangkat dari Jawa melalui laut.

Ia bertempur di daratan Kalimantan.

Kemudian ia kembali ke Kalimantan melalui udara.

Laut, darat, dan langit menjadi bagian dari perjalanan perjuangannya.

Semasa hidupnya, Imanuel terus menceritakan pengalaman tersebut.

Kesaksiannya menjadi jembatan antara generasi sekarang dan masa ketika kemerdekaan belum sepenuhnya aman.

Ia menjadi saksi bahwa kemerdekaan tidak hanya dipertahankan oleh tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah.

Baca Juga :  TNI Hadir Untuk Masyarakat, Kodam XXII/Tambun Bungai Gelar Bakti Sosial. 

Kemerdekaan juga dipertahankan oleh para prajurit yang namanya mungkin hanya dikenal di lingkaran keluarga dan rekan seperjuangan.

Imanuel adalah salah satunya.

Ketika Sang Saksi Pergi

Kini Imanuel Nuhan telah berpulang.

Bersamanya pergi salah satu suara dari generasi awal penerjunan payung Indonesia.

Namun kepergiannya tidak seharusnya membuat kisah itu ikut hilang.

Justru pada setiap bulan Agustus, ketika bangsa Indonesia kembali merayakan kemerdekaan, kisah perjuangan seperti milik Imanuel perlu kembali diceritakan.

Sebab di balik kemerdekaan yang kita nikmati hari ini terdapat pengorbanan manusia-manusia yang pernah meninggalkan rumah, menyeberangi laut, menghadapi pertempuran, bahkan melompat dari pesawat tanpa pengalaman penerjunan sebelumnya.

Imanuel Nuhan adalah bagian dari generasi itu.

Putra Dayak dari Kalimantan Tengah.

Pejuang ALRI Divisi 4 Tuban.

Veteran perjuangan di Kalimantan.

Salah satu dari 13 penerjun pertama Indonesia.

Dan seorang saksi hidup yang membawa kisah perjuangan itu hingga akhir hayatnya.

Pada Agustus ini, ketika Sang Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri, mari mengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara dan perayaan.

Kemerdekaan adalah warisan.

Warisan yang dibayar dengan keberanian, pengorbanan dan nyawa para pejuang.

Salah satu nama dalam warisan itu adalah Imanuel Nuhan.

Dari tanah Dayak Kalimantan Tengah, ia berangkat menjalani perjalanan panjang perjuangan.

Dari Tuban, ia menyeberangi laut.

Di Kalimantan, ia bertempur.

Dan dari langit Sambi, ia menorehkan namanya dalam sejarah penerjunan payung pertama Indonesia.

Imanuel Nuhan telah tiada.

Tetapi perjuangannya tetap hidup selama bangsa ini tidak melupakan sejarah.

Dirgahayu Republik Indonesia.

Merdeka bukan sekadar kata. Merdeka adalah warisan perjuangan yang harus terus kita jaga dan kita ceritakan kepada generasi berikutnya. (*/rls/sgn/red)

 

Sumber dari Hernison anak dari Alm, Imanuel Nuhan

 

Berita Terkait

Diduga Dipicu Sisa Pembakaran Sampah, Damkar Palangka Raya Berhasil Cegah Api Merambat ke Permukiman di Menteng
Kadishut Kalteng Agustan Saining: Sinergi Desa dan Kelurahan Jadi Kunci Pembangunan Berkelanjutan
Semangat HUT ke-81 RI, Davidson Lambung Ajak Masyarakat Kalimantan Tengah Perkuat Persatuan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur
Semangat HUT ke-81 RI, Ketua LSR-LPMT Kalteng Agatisyansah Tegaskan Komitmen Mengawal Keadilan dan Membela Masyarakat
OPINI,  Profesionalisme Wartawan Tidak Lahir dari Banyaknya Anggota
54 Putra Putri Terbaik Kalteng Ikuti Diklat Paskibraka 2026, Siap Emban Tugas pada HUT ke-81 RI
KBLI Kalteng Siap Hadiri Deklarasi Nasional APPI, Dorong Welder Naik Kelas Jadi Pengusaha
PUPR Kalteng Tegaskan Proyek Irigasi D.I.R. Bahatap Besar Rampung 100 Persen, Siap Hadapi Proses Pengawasan

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 09:19 WIB

Imanuel Nuhan: Dari Tanah Dayak, Menyeberangi Laut, hingga Terjun dari Langit Kalimantan Untuk Mengusir Penjajah 

Jumat, 7 Agustus 2026 - 15:13 WIB

Diduga Dipicu Sisa Pembakaran Sampah, Damkar Palangka Raya Berhasil Cegah Api Merambat ke Permukiman di Menteng

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Kadishut Kalteng Agustan Saining: Sinergi Desa dan Kelurahan Jadi Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:02 WIB

Semangat HUT ke-81 RI, Davidson Lambung Ajak Masyarakat Kalimantan Tengah Perkuat Persatuan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:33 WIB

Semangat HUT ke-81 RI, Ketua LSR-LPMT Kalteng Agatisyansah Tegaskan Komitmen Mengawal Keadilan dan Membela Masyarakat

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page