LINTAS KALIMANTAN | PALANGKA RAYA — Saat sebagian orang memilih menjauh dari jenazah karena rasa takut atau tidak sanggup, Aida justru menjadikan pekerjaan merawat dan merias jenazah sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Perempuan berusia 38 tahun itu menjalani profesi sebagai MUA jenazah di Pelayanan Duka Tabitha, Palangka Raya. Dengan tangan terampil, ketelitian, dan hati yang berusaha tetap tenang, Aida merias orang-orang yang telah berpulang sebelum menjalani penghormatan terakhir.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut mungkin terasa berat. Bahkan, tidak semua perempuan sanggup melakukannya.
Namun bagi Aida, pekerjaan bukan sekadar soal mencari penghasilan. Ada keluarga yang harus ia hidupi dan masa depan anak-anak yang ingin terus ia perjuangkan.
Kisah tersebut disampaikan Aida kepada Sugian, wartawan Media Lintas Kalimantan. Di balik profesinya yang bagi sebagian orang mungkin tidak biasa, tersimpan cerita tentang seorang ibu yang berusaha tetap kuat menghadapi kerasnya kehidupan.Rabu 2-9-2026.
Aida menyandang status sebagai janda. Ia memilih pekerjaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memastikan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.
Ia menyadari bahwa menjadi MUA jenazah bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan ketenangan, ketelitian, kesabaran, keterampilan, serta empati yang besar. Terlebih, pekerjaan itu dilakukan di tengah suasana duka ketika keluarga sedang kehilangan orang yang mereka cintai.
Setiap jenazah yang berada di tangannya diperlakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan.
Bagi Aida, merias jenazah bukan sekadar membuat seseorang terlihat lebih baik. Lebih dari itu, pekerjaannya menjadi bagian dari penghormatan terakhir sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga untuk kemudian dimakamkan.
Di balik ketenangannya menjalankan pekerjaan, ada rasa lelah yang terkadang tidak terlihat.
Sesekali muncul pertanyaan dalam dirinya, sampai kapan ia harus terus bekerja dan menjadi perempuan yang serba bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Dari begitu banyaknya garis takdir yang sudah tertulis, terkadang terlintas di pikiranku, sampai kapan aku terus bekerja. Harus jadi wanita yang serba bisa,” ungkap Aida.
Namun ketika rasa lelah datang, selalu ada alasan yang membuatnya kembali bangkit.
Anak-anaknya.
Mereka menjadi alasan Aida untuk terus bekerja dan bertahan.
Ia memiliki sebuah impian sederhana: suatu hari nanti bisa memiliki rumah sendiri. Rumah yang tidak harus mewah, tetapi cukup untuk menjadi tempat berkumpul, beristirahat, dan berlindung bersama anak-anaknya.
“Kapan ya punya rumah gini,” demikian salah satu harapan yang pernah ia ungkapkan.
Bagi sebagian orang, memiliki rumah mungkin merupakan impian yang sederhana. Namun bagi Aida, rumah adalah simbol dari perjuangan panjang yang sedang ia bangun sedikit demi sedikit.
Di tengah perjalanan tersebut, Aida juga berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia percaya bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan halal patut dihargai.
“Harus bangga pada diri sendiri, karena tidak ada yang tahu rasanya jadi aku,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu seolah menggambarkan perjalanan hidup Aida. Sebab, tidak semua perjuangan seseorang dapat dilihat oleh orang lain.
Tidak semua orang tahu berapa banyak rasa lelah yang disimpan. Tidak semua orang tahu alasan seseorang memilih pekerjaan tertentu. Dan tidak semua orang memahami apa yang harus dilakukan seseorang demi keluarganya.
Aida tidak sedang mengejar pekerjaan yang dianggap bergengsi.
Ia hanya ingin bekerja dengan cara yang halal, memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memastikan anak-anaknya tetap memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan.
Setiap kali menjalankan tugas sebagai MUA jenazah, mungkin ada satu hal yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Di balik perempuan yang sedang merias jenazah, ada seorang ibu yang sebenarnya sedang merias masa depan anak-anaknya.
Ia bekerja ketika sebagian orang mungkin memilih menghindar.
Ia tetap berdiri ketika rasa lelah datang.
Dan ia terus melangkah meski impian memiliki rumah sendiri belum sepenuhnya menjadi kenyataan.
Bagi Aida, hidup harus terus berjalan.
Sebab ada anak-anak yang menunggu perjuangannya. Ada pendidikan yang harus diperjuangkan. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Dan ada sebuah rumah yang suatu hari ingin ia wujudkan.
Pekerjaannya memang membuat Aida setiap hari berhadapan dengan kematian.
Namun alasan ia bekerja justru tentang kehidupan—tentang bertahan, tentang harapan, dan tentang masa depan anak-anak yang sangat ia cintai.(*/rls/sgn).







