INDONESIA DI PERSIMPANGAN : KETIKA RAKYAT BERTANYA “SAMPAI KAPAN?”

- Jurnalis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Signature: xGMczpSjZ/Zur3jU8SquoPMEsqhYchvxANuBETQUmFKWdNNet/mK8LycCLpdBVC1f296PgyBoHObk6sBCXGH0jYTfEGpQUGF/Jj+Wkk7ks4THQcWREmRbbwZ/P6AgL8UZLkx/MzkxDKxMWExl+TCO3zFJf1FDuunQ4nzAVYkx5Pe2BImbkI2DLe4oVxFNMqEMqChcf8d8RxHajcI/h9KAJlO5LeUrEbKFU8Jk0RpXD0tkXoVFG56YGnFVPnbEiFVmQWpREb8ZDWJ0pqexTnvKPRWi4CW+BuHDuuThBw9jPzXQ4sGn4pngYOpx7hcJ4scccsKW+1GzRET+blqWnltS6H0BW3ATPraBuL2BivdKnPogXuW0FHUxEG9kBbsu15hZYzTVBf9H/gfoC7q0KL2E5U8DLaUhOJfDqMb3Ek7TtGcXMBfyndYt11TGwT/XsX43d4IwGVjTKDfFT+Q+lpZMJ4CpvZYHWDNcxBN+ETh6aSBy1FMlvb2K9MGcgro8QUl0wg/tenNU1Bh/DMijvflscR8jF0dZgLfloYqYKbbkf3sJeJKPumSpVTc0NcT00jf8h5LurC02Kgo0wSEUkHiiVgDZy4aZoUXQKIPyfDDkDtX33IJx/DSoX1Df4/PK9l4jz0ufJAhif+CNY4TU859VyYHejiopjPCVKYvVd0eYvfz4eVP6+f5UQ712uPvgATDx337PDfPHuCV6ryRqKNzXYORdOnBFYNfufLqWanwLuuTbNZ5t6vQ0Ln416bOM8UusX288Wfc7Zk+Hi/shhfq0b+IC8YUoS8Vty31L74bc0U82AZ9JJAxjJY7KNW0FXnbGW15FXGlCZ+5eTxeAR6+g2Fgw7A6ARK3tGkmsMW2CdRN/mlAA2Dqhf4d/2aB16g9vh8FbTG0WbkyfgAm7s/Fvn+bEHKG/qI3/XUNI5GF3/9/wZ6qTyC0/K96NCgKKSXSTKTcc9+/B35CPdXPZGFwsWy0wG+vocAifWrt+VIhUuI=

Signature: xGMczpSjZ/Zur3jU8SquoPMEsqhYchvxANuBETQUmFKWdNNet/mK8LycCLpdBVC1f296PgyBoHObk6sBCXGH0jYTfEGpQUGF/Jj+Wkk7ks4THQcWREmRbbwZ/P6AgL8UZLkx/MzkxDKxMWExl+TCO3zFJf1FDuunQ4nzAVYkx5Pe2BImbkI2DLe4oVxFNMqEMqChcf8d8RxHajcI/h9KAJlO5LeUrEbKFU8Jk0RpXD0tkXoVFG56YGnFVPnbEiFVmQWpREb8ZDWJ0pqexTnvKPRWi4CW+BuHDuuThBw9jPzXQ4sGn4pngYOpx7hcJ4scccsKW+1GzRET+blqWnltS6H0BW3ATPraBuL2BivdKnPogXuW0FHUxEG9kBbsu15hZYzTVBf9H/gfoC7q0KL2E5U8DLaUhOJfDqMb3Ek7TtGcXMBfyndYt11TGwT/XsX43d4IwGVjTKDfFT+Q+lpZMJ4CpvZYHWDNcxBN+ETh6aSBy1FMlvb2K9MGcgro8QUl0wg/tenNU1Bh/DMijvflscR8jF0dZgLfloYqYKbbkf3sJeJKPumSpVTc0NcT00jf8h5LurC02Kgo0wSEUkHiiVgDZy4aZoUXQKIPyfDDkDtX33IJx/DSoX1Df4/PK9l4jz0ufJAhif+CNY4TU859VyYHejiopjPCVKYvVd0eYvfz4eVP6+f5UQ712uPvgATDx337PDfPHuCV6ryRqKNzXYORdOnBFYNfufLqWanwLuuTbNZ5t6vQ0Ln416bOM8UusX288Wfc7Zk+Hi/shhfq0b+IC8YUoS8Vty31L74bc0U82AZ9JJAxjJY7KNW0FXnbGW15FXGlCZ+5eTxeAR6+g2Fgw7A6ARK3tGkmsMW2CdRN/mlAA2Dqhf4d/2aB16g9vh8FbTG0WbkyfgAm7s/Fvn+bEHKG/qI3/XUNI5GF3/9/wZ6qTyC0/K96NCgKKSXSTKTcc9+/B35CPdXPZGFwsWy0wG+vocAifWrt+VIhUuI=

Catatan dari negeri yang rakyatnya terus bertahan di tengah mahalnya hidup, rapuhnya energi, dan panjangnya daftar persoalan

 

Oleh: Sugian — Wartawan Media Lintas Kalimantan

 

 

Ada masa ketika rakyat tidak lagi bertanya tentang kemewahan.

Mereka hanya bertanya:

“Besok, masih sanggupkah kami memenuhi kebutuhan keluarga?”

Pertanyaan sederhana itu terasa semakin berat memasuki 2026. Harga kebutuhan menjadi perhatian, biaya energi menekan, sementara penghasilan tidak selalu mampu mengejar pengeluaran.

Pada titik tertentu, rakyat tidak lagi menghitung keinginan.

Mereka menghitung kebutuhan.

Berapa harga beras, listrik, BBM, pakan ternak, hingga modal untuk kembali berdagang.

Karena itu, negara perlu berhenti sejenak dan mendengar suara rakyat paling bawah.

RAKYAT TIDAK HIDUP DARI ANGKA

Pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan, dan berbagai indikator makroekonomi memang penting.

Namun rakyat kecil tidak membeli beras dengan angka pertumbuhan ekonomi.

Pedagang tidak membayar listrik dengan grafik.

Petani dan peternak tidak membeli kebutuhan produksi dengan statistik.

Yang mereka butuhkan sederhana:

Harga terjangkau, pendapatan cukup, energi tersedia, pekerjaan aman, dan masa depan yang pasti.

Di situlah keberhasilan pemerintah sesungguhnya diuji: bukan hanya dari apa yang terlihat dalam laporan, tetapi dari apa yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari.

BBM DAN LISTRIK: DUA URAT NADI KEHIDUPAN

Antrean BBM bukan sekadar kendaraan yang menunggu giliran.

Di dalamnya ada pekerja, pedagang, pengemudi, dan keluarga yang sedang berusaha menghemat pengeluaran.

Ketika energi terganggu, dampaknya merambat ke mana-mana. Biaya transportasi naik, distribusi terganggu, dan harga barang di pasar ikut terdorong.

Begitu pula listrik.

Ketika listrik padam, usaha kecil bisa berhenti. Peralatan tidak berjalan. Pendapatan hilang.

Bagi UMKM dan peternak, kerugian itu bukan sekadar angka. Di belakangnya ada modal, cicilan, biaya pakan, tagihan, dan kebutuhan keluarga.

Baca Juga :  Kepergok Ngintip Kos Putri, Pria 30 Tahun Diamankan Polisi di Palangka Raya

Karena itu, ketahanan energi adalah bagian dari ketahanan ekonomi rakyat.

KETIKA RAKYAT TURUN KE JALAN

Demonstrasi adalah salah satu bentuk kegelisahan masyarakat.

Ketika keluhan merasa tidak cukup didengar, sebagian rakyat memilih turun ke jalan.

Pemerintah memang berkewajiban menjaga ketertiban. Tetapi pemerintah juga memiliki kewajiban yang sama pentingnya:

mendengar.

Sebab suara keras rakyat tidak selalu lahir dari kebencian. Sering kali ia lahir dari penderitaan yang terlalu lama dipendam.

Kritik seharusnya tidak selalu dianggap ancaman.

Kritik bisa menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperbaiki diri.

KETIKA EKONOMI BERTEMU BENCANA

Persoalan ekonomi juga bertemu dengan persoalan lingkungan.

Kemarau dan kebakaran membawa asap, mengganggu aktivitas, dan mengancam kesehatan masyarakat.

Di sinilah negara dituntut hadir bukan hanya setelah bencana terjadi, tetapi sejak sebelum bencana datang.

Pencegahan, kesiapsiagaan, pelayanan publik, perlindungan sosial, dan respons cepat merupakan bagian dari tanggung jawab negara.

Sebab rakyat yang sudah berat menghadapi ekonomi tidak boleh dibiarkan sendirian ketika bencana datang.

RAKYAT TIDAK MENUNTUT KEMEWAHAN

Sesungguhnya rakyat tidak meminta terlalu banyak.

Mereka ingin harga kebutuhan pokok yang wajar.

Mereka ingin BBM tersedia.

Mereka ingin listrik menyala.

Mereka ingin usaha kecil bertahan.

Mereka ingin pekerjaan.

Mereka ingin lingkungan yang sehat.

Mereka ingin anak-anak memiliki masa depan.

Dan yang paling penting:

mereka ingin diperlakukan adil.

Keadilan sosial tidak boleh hanya menjadi kalimat indah dalam pidato.

Keadilan harus terasa di pasar, di warung, di rumah petani, di kandang peternak, di tempat usaha UMKM, dan dalam kehidupan buruh serta pekerja.

SEPTEMBER, AWAL PERUBAHAN?

September segera datang.

Baca Juga :  Polresta Palangka Raya Gelar Apel Kesiapan Pengamanan Pawai Tahrib Ramadhan 2026

Rakyat tentu berharap bulan baru membawa suasana baru.

Namun perubahan tidak lahir hanya karena kalender berganti.

Perubahan membutuhkan keberanian memperbaiki kebijakan, ketepatan mengambil keputusan, kesungguhan mendengar rakyat, dan kemampuan menghadirkan solusi.

Rakyat tidak membutuhkan janji yang tinggi.

Rakyat membutuhkan bukti.

Bukti bahwa harga dapat dijangkau.

Bukti bahwa energi tersedia.

Bukti bahwa usaha kecil dilindungi.

Bukti bahwa pemerintah hadir ketika rakyat membutuhkan.

JANGAN BIARKAN HARAPAN PADAM

Indonesia adalah negeri besar dengan sumber daya dan potensi yang besar.

Namun kebesaran sebuah negara tidak akan berarti jika rakyat kecil merasa sendirian menghadapi kesulitan.

Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton pertumbuhan ekonomi.

Jangan sampai pembangunan terlihat megah, sementara sebagian masyarakat masih sibuk mencari cara untuk bertahan hidup.

Dan jangan sampai suara rakyat baru didengar setelah penderitaan berubah menjadi kemarahan.

Dengarkan sebelum rakyat berteriak.

Perbaiki sebelum keadaan semakin sulit.

Hadir sebelum rakyat merasa ditinggalkan.

Pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang tidak pernah dikritik.

Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang mampu mendengar, berani mengoreksi kekurangan, dan bekerja menghadirkan perubahan.

Rakyat mungkin sedang lelah.

Tetapi harapan itu masih ada.

Harapan agar ekonomi kembali berpihak kepada masyarakat.

Harapan agar energi tidak menjadi beban.

Harapan agar UMKM, petani, dan peternak semakin terlindungi.

Harapan agar lingkungan tetap sehat.

Dan harapan agar keadilan sosial benar-benar dirasakan.

Sebab pertanyaan rakyat hari ini bukan hanya:

“Sampai kapan kami harus bertahan?”

Tetapi juga:

“Kapan negara benar-benar hadir untuk membuat kami hidup lebih layak?”

Indonesia berada di persimpangan.

Semoga September bukan sekadar pergantian bulan.

Semoga ia menjadi awal perubahan yang benar-benar dirasakan rakyat.

Semoga.

 

Berita Terkait

HKT dan PDB Kalteng Bagikan 500 Masker Gratis, Ajak Warga Waspadai Dampak Karhutla
Kabut Asap Belum Mereda, KNPI Pulang Pisau Gelar Aksi Sosial Pembagian Masker dan Vitamin
Duka Kabut Asap Belum Usai, MES Pulang Pisau Hadirkan Bantuan Darurat Masker dan Vitamin untuk Pengendara
BEM SI Kerakyatan Kalteng Desak Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Warga di Tengah Kabut Asap
Bocah Barito Selatan Mengadu kepada Prabowo: Kabut Asap Mengepung, Anak-anak Kesulitan Sekolah
Relawan HKT Tetap Bergerak di Tengah Karhutla Kalteng, Doakan Api Segera Padam
DPW IPJI Kalteng Bersinergi dengan Pemko Palangka Raya, Layani Aktivasi IKD dan Bagikan Masker Gratis
PT. Sinar Mas Bersama Tujuh Perusahaan Gelar Bakti Sosial untuk Warga Terdampak Karhutla di Kintap Tanah Laut

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:51 WIB

HKT dan PDB Kalteng Bagikan 500 Masker Gratis, Ajak Warga Waspadai Dampak Karhutla

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Kabut Asap Belum Mereda, KNPI Pulang Pisau Gelar Aksi Sosial Pembagian Masker dan Vitamin

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:07 WIB

Duka Kabut Asap Belum Usai, MES Pulang Pisau Hadirkan Bantuan Darurat Masker dan Vitamin untuk Pengendara

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:39 WIB

BEM SI Kerakyatan Kalteng Desak Pemerintah Prioritaskan Kesehatan Warga di Tengah Kabut Asap

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:53 WIB

Bocah Barito Selatan Mengadu kepada Prabowo: Kabut Asap Mengepung, Anak-anak Kesulitan Sekolah

Berita Terbaru

LINTAS TNI

TMMD Ke- 130 Wilayah Kodim 1016/Plk Resmi Di Buka

Selasa, 13 Okt 2026 - 11:59 WIB

You cannot copy content of this page