LINTAS KALIMANTAN | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih menjadi perhatian serius. Tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap.
Tim gabungan diantaranya BPBD Kobar, Dinas Pemadam Kebakaran Kobar, Polres Kobar, TNI (Kodim 1014 Pangkalan Bun, TNI AU Lanud Iskandar, Lanal Kumai, Brigade Infanteri TP 40/Huma Betang), Brimob Kompi 3 Batalyon B Pelopor, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan penanganan di lapangan.
Dalam penanganan tersebut, petugas mengerahkan kendaraan pemadam, mesin portabel, serta sejumlah peralatan pendukung untuk mempercepat proses pemadaman dan pendinginan di lokasi terdampak.
Kapolres Kobar AKBP Joko Handono mengatakan, kondisi kebakaran di area lahan gambut yang cukup tebal serta angin kencang menjadi kendala dalam proses pemadaman dan pendinginan karhutla.
“Tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap. Kondisi lahan gambut yang cukup tebal dan angin kencang menjadi kendala, sehingga penanganannya membutuhkan waktu lebih lama. Kami pastikan pemantauan dan penanganan terus dilakukan sampai lahan benar-benar aman dan tidak kembali muncul titik api,” ujar Joko Handono, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, penanganan karhutla tidak hanya dilakukan dengan memadamkan api yang terlihat, tetapi juga memastikan lokasi yang telah terbakar benar-benar aman dan tidak kembali memunculkan titik api.
Selain pemadaman, petugas juga melakukan penyelidikan terhadap penyebab kebakaran serta memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Sementara itu, Bupati Kobar Hj. Nurhidayah menegaskan, penanganan karhutla dan pelayanan kepada masyarakat terdampak kabut asap terus dilakukan secara maksimal tanpa jeda.
“Penanganan karhutla dan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak kabut asap terus kami jalankan penuh, selama 24 jam, tanpa jeda. Seluruh personel, mulai dari BPBD, TNI-Polri, Pemadam Kebakaran, hingga relawan Masyarakat Peduli Api, terus bersiaga di lapangan, dan kami akan terus memperkuat langkah-langkah ini hingga kondisi benar-benar terkendali,” kata Hj. Nurhidayah.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan karena dapat menyebabkan api meluas dan membahayakan lingkungan.
Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan karhutla sehingga kondisi di wilayah Kobar dapat segera terkendali. Dukungan dan kesadaran seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting agar ancaman karhutla tidak terus berulang dan meluas. (R)







