LINTAS KALIMANTAN PALANGKA || PALANGKA RAYA – Setahun sudah berlalu sejak empat unit kapal wisata susur sungai diresmikan dengan gegap gempita di Dermaga Flamboyan. Namun hingga Februari 2026, tak satu pun kapal beroperasi. Publik mulai bertanya: kemana anggaran miliaran rupiah mengalir, dan mengapa aset daerah ini dibiarkan menjadi besi tua sebelum sempat berlayar?
Proyek yang diluncurkan 22 Mei 2025 itu digadang sebagai ikon pariwisata berbasis sungai Kalimantan Tengah. Rencana operasional Juni 2025 tinggal kenangan. Kini, kapal-kapal itu hanya menjadi objek diam yang terus menggerogoti anggaran daerah melalui biaya sandar, perawatan rutin, dan gaji penjaga.
Hasil penelusuran investigasi mengungkap sederet pertanyaan mendasar yang hingga kini tidak dijawab oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng:
1. Berapa nilai proyek? Tak ada transparansi soal total anggaran pengadaan empat kapal yang bersumber dari APBD.
2. Apa kajiannya? Tidak ditemukan dokumen studi kelayakan yang memastikan kesiapan teknis, SDM, dan pasar.
3. Siapa kontraktornya? Identitas pihak ketiga pelaksana proyek masih misteri, menutup ruang audit publik.
4. Penyebab mandek? Diduga ada persoalan perizinan, regulasi keselamatan pelayaran, atau cacat teknis yang ditutupi.
5. Di mana manfaatnya? Potensi PAD dan peluang ekonomi masyarakat di kawasan sungai hilang percuma.
6. Siapa pengelola? Tak jelas apakah kapal akan dioperasikan dinas, BUMD, atau swasta, mencerminkan lemahnya koordinasi.
7. Biaya perawatan dari pos mana? Selama setahun mangkrak, anggaran pemeliharaan terus mengalir. Publik berhak tahu rinciannya.
8. Siapa KPA? Kuasa Pengguna Anggaran yang bertanggung jawab atas proyek ini tak pernah muncul ke publik.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng enggan memberikan klarifikasi. Padahal, tanpa keterbukaan, spekulasi liar akan terus berkembang dan kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin tergerus.
Kapal wisata susur sungai sejatinya bisa menjadi nadi baru ekonomi dan budaya. Namun jika hanya menjadi proyek simbolis yang mangkrak, ia tak lebih dari monumen pemborosan di tepi Sungai Kahayan. (*/rls/tim/red)






