LINTAS KALIMANTAN | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Niño akan terus berlangsung hingga awal kuartal I 2027 dengan intensitas yang berpotensi melampaui kategori kuat. Kondisi ini diprediksi memicu musim kemarau yang lebih kering dari normal serta meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Potensi tersebut diperkirakan semakin meningkat dengan kemungkinan munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode September hingga Desember 2026. Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut berpotensi memperbesar ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menurunkan ketersediaan air, serta mengganggu sektor pertanian.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG memperkuat upaya mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas. Langkah ini merupakan bagian dari strategi mitigasi bencana hidrometeorologi sekaligus mendukung kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi dampak musim kemarau.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa pelaksanaan OMC merupakan langkah proaktif untuk mengurangi risiko bencana akibat kekeringan dan karhutla. Kamis 30-7-2026.
BMKG juga mendorong sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat agar upaya mitigasi dapat berjalan lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif.
Melalui penguatan Operasi Modifikasi Cuaca serta kolaborasi lintas sektor, BMKG berharap dampak El Niño yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir 2026 dapat diminimalkan. Dengan demikian, risiko terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi diharapkan dapat ditekan.
Sumber: BMKG Pusat







