LINTAS KALIMANTAN | BUNTOK – Di usia ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah pada 23 Mei 2026, harapan masyarakat pedalaman terhadap pemerataan pembangunan masih belum surut. Di tengah semarak peringatan hari jadi Bumi Tambun Bungai, persoalan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di sejumlah wilayah pelosok.
Bagi masyarakat perkotaan, akses transportasi mungkin bukan lagi persoalan utama. Namun kondisi berbeda masih dirasakan warga di daerah pedalaman yang harus berjibaku dengan jalan rusak, jembatan memprihatinkan, hingga akses penghubung yang belum layak dilalui.
Kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap roda perekonomian, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Salah satu ruas yang hingga kini masih dikeluhkan masyarakat yakni jalan penghubung dari Kelurahan Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan menuju wilayah Kabupaten Barito Timur.
Jalur tersebut dinilai sebagai urat nadi transportasi warga. Selain digunakan masyarakat Bangkuang, akses itu juga menjadi lintasan penting bagi sejumlah desa di wilayah Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan.
Namun hingga kini, kondisi jalan dan jembatan di kawasan tersebut dinilai belum mengalami perubahan signifikan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Saat musim hujan dan banjir melanda, sebagian ruas bahkan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga terpaksa menggunakan perahu bermesin untuk menembus genangan sebelum kembali melanjutkan perjalanan darat di titik jalan yang masih bisa dilalui.
Putra daerah Kelurahan Bangkuang yang juga seorang jurnalis di Kalimantan Tengah, Jhon Kenedy, menilai perhatian terhadap akses penghubung tersebut perlu menjadi prioritas pembangunan daerah.
Menurut pria yang akrab disapa Bucek itu, perbaikan memang beberapa kali dilakukan melalui proyek pemerintah. Namun penanganannya dinilai belum menyeluruh dan belum mampu mengatasi kerusakan secara permanen.
“Jalan dan jembatan ini sebenarnya sudah beberapa kali diperbaiki maupun ditingkatkan. Tetapi penanganannya belum benar-benar menyentuh semuanya,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dapat melanjutkan pembangunan dan peningkatan infrastruktur di jalur tersebut secara berkelanjutan.
“Saya sangat berharap dan memohon kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah agar dapat melanjutkan peningkatan jalan dan jembatan dari Kelurahan Bangkuang menuju Barito Timur ini,” katanya.
Menurutnya, apabila kerusakan jalan terus dibiarkan, maka kondisi akses akan semakin parah dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Ia menegaskan, akses jalan yang layak bukan sekadar soal kenyamanan perjalanan, tetapi berkaitan erat dengan stabilitas harga kebutuhan pokok, peningkatan ekonomi masyarakat, hingga keselamatan warga yang membutuhkan layanan kesehatan darurat.
“Kalau akses jalan baik dan mobilitas lancar, tentu perekonomian masyarakat meningkat, distribusi barang lebih mudah, harga bahan pokok bisa stabil. Bahkan pengantaran pasien rujukan ke rumah sakit besar juga bisa lebih cepat,” ungkapnya.
Di usia ke-69 tahun Kalimantan Tengah, harapan masyarakat di pelosok sejatinya sederhana, yakni hadirnya pembangunan yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar mereka.
Sebab bagi masyarakat pedalaman, jalan yang layak bukan sekadar infrastruktur, melainkan penghubung harapan menuju kehidupan yang lebih baik.(*/rls/sgn/red)







