GMKI PALANGKA RAYA: PERSEMBAHAN NATAL NASIONAL UNTUK PALESTINA ADALAH PANGGILAN PROFETIK BANGSA INI JANGAN MATI HATI NURANI

- Jurnalis

Rabu, 26 November 2025 - 06:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Palangka Raya, 24 November 2025 Perayaan Natal Nasional yang diselenggarakan pada tahun ini membawa pesan khusus: seluruh persembahan ibadah akan didedikasikan bagi rakyat Palestina yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan paling mengerikan dalam sejarah modern mereka. Langkah ini dipuji luas, namun juga menjadi refleksi moral bagi bangsa Indonesia.

 

Ketua GMKI Cabang Palangka Raya, Arpandi, menyebut keputusan tersebut sebagai “tindakan kasih yang harus dibaca secara profetik”. Menurutnya, solidaritas kepada Palestina tidak boleh hanya menjadi simbol kepedulian, tetapi harus menjadi cermin bagi nurani bangsa Indonesia, yang saat ini sedang diuji oleh berbagai krisis moral dan sosial.

 

1. Solidaritas untuk Palestina: Tindakan Iman, Moral, dan Kemanusiaan

 

Arpandi menegaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan sekadar isu internasional, tetapi tragedi kemanusiaan yang menuntut respons moral semua umat beriman. Persembahan Natal Nasional yang diarahkan kepada Palestina adalah:

 

tindakan iman, karena Natal mengajarkan kasih kepada yang tertindas;

 

tindakan moral, karena penderitaan mereka harus disentuh oleh nurani global;

 

tindakan politik kemanusiaan, karena Indonesia sebagai bangsa besar memiliki tanggung jawab moral di percaturan dunia.

 

 

Namun, Arpandi mengingatkan bahwa bantuan tersebut tidak boleh berhenti pada seremoni.

 

“Kita memberi untuk Palestina karena hati nurani kita terpanggil. Tetapi pertanyaannya: apakah hati nurani yang sama juga bekerja untuk rakyat kita sendiri…?” ujarnya.

 

2. Kritik Profetik terhadap Situasi Dalam Negeri: Bangsa yang Terancam Mati Nurani

 

Menurut Arpandi, pesan Natal selalu mengandung suara profetik, yakni teguran keras bagi mereka yang berada di dalam struktur kekuasaan maupun masyarakat yang mulai kehilangan sensitivitas moral.

 

Ia menyoroti sejumlah persoalan dalam negeri yang menggambarkan gejala “mati hati nurani”, yaitu:

 

a. Ketimpangan sosial yang semakin melebar

 

Di tengah pembangunan kota-kota besar dan investasi besar-besaran, masih banyak rakyat yang berjuang untuk kebutuhan dasar. Sementara itu, praktik korupsi terus terjadi, memperlihatkan kehilangan rasa malu oleh para pejabat.

Baca Juga :  Benahi Kualitas Pelayanan Publik, Bupati Kotabaru Teken Nota Kesepakatan Dengan Ombudsman RI

 

b. Politik transaksional yang menghilangkan nilai moral

 

Dalam banyak momentum politik, suara rakyat seringkali dipertukarkan dengan uang, jabatan, atau fasilitas. Politik kehilangan roh pelayanan.

 

c. Degradasi moral dalam birokrasi dan kekuasaan

 

Arpandi , menegaskan bahwa ketika pejabat publik lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada memperjuangkan keadilan, maka mereka sesungguhnya telah kehilangan hati nurani.

 

d. Konflik sosial dan marjinalisasi rakyat kecil

 

Mulai dari masalah agraria, eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan, persoalan ketidakadilan di daerah pedalaman, hingga konflik horizontal yang tidak ditangani secara adil semuanya menunjukkan lemahnya kehadiran negara.

 

e. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi rakyat

 

Ketika masyarakat kecil harus bergulat dengan harga pangan yang melonjak, pemerintah justru sibuk dengan narasi keberhasilan ekonomi yang tidak dirasakan oleh rakyat.

 

“Jika bangsa hanya tersentuh oleh penderitaan luar negeri tetapi membiarkan ketidakadilan menumpuk di rumah sendiri, itu tanda bahwa nurani kita sakit,” tegas Arpandi.

 

 

3. Natal Nasional Harus Menjadi Momentum Kebangkitan Moral

 

GMKI Palangka Raya menegaskan bahwa Natal Nasional tidak boleh berhenti sebagai acara besar penuh dekorasi. Natal harus menjadi:

 

* panggilan pertobatan sosial,

 

* titik balik moral bangsa,

 

* dan suara profetik yang berani menegur struktur kekuasaan.

 

 

Arpandi menegaskan:

 

“Yesus lahir bukan untuk kenyamanan. Ia lahir untuk menegur mereka yang menindas dan membangkitkan yang tertindas. Natal adalah kritik sosial.”

 

Karena itu, ia meminta agar gereja-gereja di Indonesia tidak tenggelam dalam seremoni, tetapi kembali pada tugas profetik: menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara.

 

4. Persembahan untuk Palestina sebagai Cermin Keadilan

Baca Juga :  Satpamobvit Polresta Palangka Raya Amankan Keberangkatan Rombongan Staf Kepresidenan RI di Bandara Tjilik Riwut

 

Arpandi menjelaskan bahwa tindakan memberikan persembahan Natal untuk Palestina bukan hanya bentuk kepedulian global, tetapi juga alat untuk menilai arah moral bangsa.

 

“Kita membantu Palestina, tetapi apakah kita sudah membantu masyarakat adat kita sendiri…?

 

Kita peduli pada Gaza, tetapi apakah kita peduli pada masyarakat miskin kota ….?

Kita bersuara keras untuk kemanusiaan dunia, tetapi apakah kita cukup keras terhadap ketidakadilan di negeri sendiri?”**

 

GMKI Palangka Raya melihat bahwa sikap solidaritas internasional harus diiringi dengan tanggung jawab internal. Karena itu, mereka meminta agar pemerintah tidak menggunakan isu internasional sebagai tameng untuk mengabaikan problem domestik.

 

5. Seruan Profetik GMKI Palangka Raya

 

Dalam pernyataannya, Arpandi menyampaikan tiga seruan penting bagi bangsa:

 

a. Gereja-gereja dan umat Kristen Indonesia

 

Harus kembali pada misi profetik, berani menegur ketidakadilan, membela martabat manusia, dan konsisten menyuarakan kebenaran, baik tentang Palestina maupun kondisi rakyat Indonesia.

 

b. Pemerintah Republik Indonesia

 

Harus memperhatikan suara rakyat kecil, memastikan kebijakan pembangunan tidak melukai masyarakat miskin, menghentikan praktik kezaliman birokrasi, dan menjaga komitmen kemanusiaan baik di dalam maupun di luar negeri.

 

c. Kaum muda dan mahasiswa

 

Dipanggil untuk menjaga integritas, tidak tunduk pada politik uang, menjadi agen perubahan, dan terus meneriakkan kebenaran meski tidak populer.

 

“Suara profetik tidak boleh padam. Jika mahasiswa diam, maka keadilan akan semakin jauh dari rakyat,” tutup Arpandi.

 

Penutup

 

Dengan ini, GMKI Palangka Raya menegaskan kembali bahwa Natal Nasional harus dimaknai secara lebih mendalam. Persembahan untuk Palestina adalah tindakan mulia, tetapi bangsa ini juga harus kembali menyalakan hati nuraninya, agar keadilan dan kemanusiaan tidak berhenti pada slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Berita Terkait

Kasus ISPA Palangka Raya Tembus 6.041, Kabut Asap Karhutla Jadi Sorotan
Sugie Gerakkan APPI Kalteng, Siapkan Kopdar Perdana
Tambun Bungai Run Bergemuruh, Agustiar Sabran Serukan Semangat Bersama Menuju Indonesia Emas Menulis
Kapolda Kalteng Hadiri Syukuran HUT ke-69 Yansen A. Binti, Tekankan Sinergi Jaga Kamtibmas
“Tembus Pelosok Kotabaru, Kodim 1004 Bangun Jembatan dan Buka Akses Warga”
Inovasi SKPD Kotabaru Digenjot, Bapperida Bidik Juara IGA
Klinik Lapas Kotabaru Resmi Jadi FKTP, Layanan Kesehatan Warga Binaan Naik Kelas
Peringati 1 Tahun Kodam XXII TB,Agustan Saining: Jaga Hutan Kalteng Tak Bisa Sendiri, Sinergi TNI dan Pemda Harus Diperkuat

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Kasus ISPA Palangka Raya Tembus 6.041, Kabut Asap Karhutla Jadi Sorotan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Sugie Gerakkan APPI Kalteng, Siapkan Kopdar Perdana

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 14:32 WIB

Tambun Bungai Run Bergemuruh, Agustiar Sabran Serukan Semangat Bersama Menuju Indonesia Emas Menulis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:52 WIB

Kapolda Kalteng Hadiri Syukuran HUT ke-69 Yansen A. Binti, Tekankan Sinergi Jaga Kamtibmas

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:25 WIB

“Tembus Pelosok Kotabaru, Kodim 1004 Bangun Jembatan dan Buka Akses Warga”

Berita Terbaru

LINTAS HUKUM

Minggu, 23 Agu 2026 - 06:57 WIB

LINTAS DAERAH

MTQH Kobar Dorong Generasi Muda Cintai Al-Qur’an

Sabtu, 22 Agu 2026 - 23:22 WIB

LINTAS NASIONAL

Presiden Prabowo Pimpin Langsung Penanganan Karhutla di Kalimantan

Sabtu, 22 Agu 2026 - 15:12 WIB

You cannot copy content of this page