LINTAS KALIMANTAN | Kondisi pekerjaan jalan dari simpang menuju Kabupaten Lamandau, tepatnya di wilayah Desa Runtu, kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah titik bahu jalan terlihat sudah mengalami penambalan, meski pekerjaan tersebut dinilai masih relatif baru.
Pantauan di lapangan menunjukkan adanya tambalan aspal pada beberapa bagian jalan. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan maupun proses pelaksanaan proyek yang sedang berlangsung.
Selain persoalan kondisi aspal, masyarakat yang setiap hari melintas di ruas jalan tersebut juga mempertanyakan keberadaan papan informasi proyek. Hingga saat ini, warga mengaku tidak melihat papan plang yang memuat informasi mengenai nama kegiatan, nilai anggaran, sumber dana, pelaksana, maupun masa pengerjaan.
Ketiadaan papan informasi proyek dinilai menyulitkan masyarakat untuk mengetahui secara terbuka pekerjaan yang sedang dilaksanakan. Padahal, keterbukaan informasi menjadi bagian penting agar masyarakat dapat ikut melakukan pengawasan terhadap pembangunan infrastruktur.
Informasi yang berkembang di lapangan menyebutkan bahwa pekerjaan tersebut ditangani oleh
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN). Namun, informasi mengenai detail pekerjaan, nilai kontrak, serta perusahaan pelaksana masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.
Salah satu warga, Sofyan mengatakan, bahwa kondisi tersebut menjadi pertanyaan bagi masyarakat yang setiap hari melintasi ruas jalan tersebut. Menurutnya, pekerjaan yang masih tergolong baru semestinya mampu memberikan hasil yang baik dan tidak langsung membutuhkan penambalan di sejumlah titik.
“Kalau memang pekerjaan baru dikerjakan, kami sebagai masyarakat tentu mempertanyakan kenapa sudah ada beberapa titik yang ditambal. Apakah perencanaannya yang kurang tepat atau pelaksanaannya yang perlu dievaluasi,” ujar Sofyan.
Ia juga mempertanyakan tidak terlihatnya papan informasi proyek di sepanjang ruas jalan yang dikerjakan. Padahal, menurutnya, masyarakat berhak mengetahui siapa pelaksana pekerjaan, nilai anggaran, sumber dana, serta batas waktu pengerjaan.
“Kami juga tidak pernah melihat papan proyek di lokasi. Padahal itu penting supaya masyarakat tahu proyek ini dikerjakan oleh siapa, anggarannya berapa dan kapan selesai. Jangan sampai masyarakat hanya melihat pekerjaannya tanpa mengetahui informasi proyeknya,” tegasnya.
Publik kini menunggu penjelasan BPJN maupun pihak kontraktor terkait alasan munculnya tambalan pada sejumlah titik serta keberadaan papan informasi proyek. Jangan sampai pembangunan infrastruktur yang menggunakan uang negara justru minim transparansi dan menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat.
(Bersambung)………..







