LINTAS KALIMANTAN| Palangka Raya – Memasuki puncak musim kemarau, Kota Palangka Raya mulai diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah titik di sekitar wilayah kota. Kondisi ini dipicu cuaca yang panas dan kering setelah hampir satu bulan tidak diguyur hujan.
Kabut asap mulai terasa di beberapa kawasan dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat apabila kebakaran terus meluas. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat vegetasi dan lahan gambut semakin mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Tidak hanya karhutla, sepanjang pertengahan Juli 2026 sejumlah kebakaran permukiman juga terjadi hampir setiap hari. Beberapa kawasan padat penduduk, termasuk wilayah Puntun dan sejumlah lokasi lainnya di Kota Palangka Raya, dilaporkan mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan rumah warga.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat cuaca panas dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Pastikan seluruh peralatan elektronik yang tidak digunakan telah dimatikan, periksa kondisi stop kontak dan instalasi listrik, cabut steker perangkat yang tidak diperlukan, serta pastikan kompor dan sumber api lainnya benar-benar dalam kondisi padam sebelum meninggalkan rumah.
Selain itu, warga juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat diharapkan terus meningkatkan kesiapsiagaan selama musim kemarau. Informasi mengenai kondisi cuaca dan potensi kebakaran sebaiknya selalu mengacu pada informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat. (*/rls/sgn/red)







