LINTAS KALIMANTAN | Tim gabungan Polres Kotawaringin Barat (Kobar) bersama unsur terkait terus berjibaku memadamkan dan mendinginkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Penanganan difokuskan pada penyekatan api agar tidak merambat ke area pemberian makan (feeding area) orangutan, Camp Tanjung Harapan, serta permukiman warga Desa Sekonyer, Kecamatan Kumai, Kamis (29/10/2026).
Upaya tersebut dilakukan sejak Rabu (28/10) malam di kawasan Pesalat Resor, wilayah Sungai Bulu, Desa Sekonyer. Petugas berupaya mengendalikan rambatan api di tengah kondisi medan yang didominasi rawa, lahan berpasir, pepohonan, daun kering, dan semak belukar.
Sebagian area yang terbakar diketahui pernah mengalami kebakaran sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian petugas, terutama untuk mengantisipasi bara api yang masih tersimpan di dalam tanah rawa maupun pada pohon-pohon tumbang.
Kapolres Kobar AKBP Joko Handono mengatakan, personel kepolisian bersama masyarakat dan instansi terkait terus melakukan penyekatan melalui pemadaman serta pendinginan di titik-titik kebakaran.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah api menjalar ke kawasan konservasi yang menjadi habitat orangutan, khususnya area feeding di Camp Tanjung Harapan, serta menghindari rambatan api menuju permukiman warga.
“Memasuki hari Kamis, 29 Oktober 2026, Tim Penanganan Karhutla telah menyusun sejumlah rencana strategis lanjutan. Fokus utama hari ini adalah melanjutkan penyekatan melalui pemadaman dan pembasahan intensif di area hutan TNTP demi melindungi Camp Tanjung Harapan dan area feeding orangutan,” ujarnya.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, tim berencana menambah embung air atau tangki air portabel (portable tank) di sekitar lokasi kebakaran. Penambahan sarana tersebut diharapkan dapat menjaga ketersediaan air selama proses pemadaman berlangsung.
Petugas juga menyiapkan jalur rintisan dan penambahan selang pemadam guna memudahkan mobilisasi personel serta memperluas jangkauan penanganan di titik-titik yang sulit dijangkau.
Meski demikian, upaya pemadaman masih menghadapi kendala berupa bara api yang bertahan di dalam tanah rawa dan pohon-pohon tumbang. Karena itu, pemantauan terus diperketat untuk mendeteksi potensi munculnya kembali api dan mencegah kebakaran meluas ke kawasan konservasi maupun permukiman warga.(*)







