LINTAS KALIMANTAN | SURABAYA — Sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, situasi politik dan keamanan di berbagai daerah berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Jepang masih memegang persenjataan, sementara kekuatan Sekutu mulai bersiap memasuki Indonesia.
Dalam situasi tersebut, kepolisian tidak hanya menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban. Di sejumlah daerah, para anggota kepolisian turut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan eksistensi Republik Indonesia.
Salah satu tokoh penting dalam perjalanan tersebut adalah Komjen Pol. (Purn) Moehammad Jasin, yang kemudian dikenal sebagai salah satu peletak dasar perjuangan kepolisian Indonesia dan mendapat julukan Proklamator Polri.
Dari Polisi Istimewa Menuju Polisi Republik Indonesia
Pada masa awal kemerdekaan, Moehammad Jasin masih berpangkat Inspektur Polisi Kelas I dan dipercaya memimpin pasukan Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsutai) di Surabaya.
Pasukan ini memiliki kedudukan strategis. Selain memiliki pengalaman dan kemampuan yang relatif lebih baik dibandingkan sejumlah satuan keamanan lainnya pada masa pendudukan Jepang, Polisi Istimewa juga memiliki persenjataan yang sangat dibutuhkan dalam situasi setelah Proklamasi.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, terjadi perubahan besar dalam kehidupan politik dan keamanan. Kekuasaan Jepang mulai melemah, sementara di sisi lain muncul ancaman masuknya kembali kekuatan asing ke Indonesia.
Dalam keadaan tersebut, Moehammad Jasin mengambil langkah penting. Ia memimpin pasukannya untuk menegaskan bahwa Polisi Istimewa di Surabaya berdiri sebagai bagian dari Polisi Republik Indonesia.
Langkah ini memiliki arti penting. Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama atau penyesuaian struktur organisasi, melainkan sebuah pernyataan sikap politik dan kebangsaan: bahwa kepolisian menempatkan kesetiaannya kepada Republik Indonesia yang baru diproklamasikan.
Momentum inilah yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan Polri.
21 Agustus 1945 dan Tonggak Hari Juang Polri
Peristiwa di Surabaya tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak awal perjuangan kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan.
21 Agustus 1945 menjadi tanggal penting dalam sejarah tersebut. Pada momentum itu, Polisi Istimewa di bawah kepemimpinan Moehammad Jasin menyatakan dirinya sebagai bagian dari Polisi Republik Indonesia dan mengambil sikap untuk berdiri bersama Republik.
Karena nilai historisnya, tanggal tersebut kemudian ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Juang Polri.
Hari Juang Polri bukan sekadar peringatan sebuah tanggal. Momentum ini mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya Republik, kepolisian telah mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, bukan hanya melalui tugas menjaga keamanan, tetapi juga melalui keberanian mengambil sikap di tengah situasi yang penuh risiko.
Merebut Senjata Jepang untuk Memperkuat Perjuangan
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, persenjataan yang masih berada di tangan tentara Jepang menjadi salah satu persoalan penting. Bagi para pejuang Indonesia, senjata tersebut sangat dibutuhkan untuk menghadapi kemungkinan datangnya kembali kekuatan kolonial.
Moehammad Jasin bersama pasukan yang dipimpinnya kemudian terlibat dalam upaya menguasai persenjataan Jepang di Surabaya.
Tindakan tersebut memiliki arti strategis. Persenjataan yang berhasil dikuasai dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan perjuangan rakyat dan berbagai unsur bersenjata dalam menghadapi perkembangan situasi keamanan.
Dengan demikian, perjuangan Polisi Istimewa tidak berhenti pada penegasan sebagai Polisi Republik Indonesia. Mereka juga mengambil peran nyata dalam mempertahankan keberadaan Republik melalui penguasaan sarana persenjataan dan keterlibatan dalam perjuangan bersenjata.
Dari sinilah terlihat bahwa perjalanan awal Polri lahir dalam suasana revolusi, ketika batas antara tugas keamanan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan sangat erat.
Surabaya dan Meletusnya Pertempuran November 1945
Perkembangan situasi di Surabaya semakin menegangkan setelah kedatangan pasukan Sekutu. Ketegangan antara rakyat Indonesia dan pasukan asing terus meningkat hingga akhirnya berkembang menjadi pertempuran besar.
Surabaya kemudian menjadi salah satu pusat perlawanan paling sengit dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Puncaknya terjadi pada 10 November 1945, ketika pertempuran besar pecah antara kekuatan Indonesia dan pasukan Inggris bersama unsur Sekutu.
Dalam rangkaian perjuangan tersebut, unsur kepolisian bersama tentara, laskar, pemuda, dan rakyat mengambil bagian dalam menghadapi ancaman terhadap Republik Indonesia.
Pasukan Polisi Istimewa yang memiliki pengalaman dan kemampuan tempur menjadi salah satu unsur penting dalam perjuangan di Surabaya. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa kepolisian pada masa revolusi tidak berdiri di luar perjuangan bangsa, tetapi berada di tengah-tengah rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Dari Perjuangan Fisik Menuju Pengabdian Kepolisian
Perjuangan yang berlangsung pada 1945 menjadi bagian penting dalam pembentukan jati diri Polri. Setelah masa revolusi berlalu, kepolisian terus berkembang mengikuti perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tugas Polri kemudian semakin luas dan kompleks. Dari menjaga keamanan dalam situasi perang dan revolusi, Polri berkembang menjadi institusi yang menjalankan fungsi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, serta perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, perubahan bentuk tugas tersebut tidak menghapus nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
Keteladanan Moehammad Jasin tetap relevan karena memperlihatkan pentingnya keberanian, loyalitas kepada Republik, keteguhan sikap, serta kesediaan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi.
Makna Hari Juang Polri bagi Generasi Bhayangkara
Hari Juang Polri menjadi momentum untuk kembali melihat perjalanan sejarah kepolisian Indonesia sejak masa awal kemerdekaan.
Peringatan ini mengingatkan bahwa Polri dibangun melalui perjalanan panjang dan pengorbanan para pendahulu. Sejarah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan Polri tidak terlepas dari sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tantangan yang dihadapi Polri saat ini memang berbeda dengan keadaan pada 1945. Ancaman keamanan tidak lagi selalu berupa pertempuran terbuka atau konflik bersenjata. Polri menghadapi berbagai persoalan baru, mulai dari kejahatan konvensional, kejahatan lintas negara, terorisme, hingga kejahatan dan ancaman keamanan di ruang digital.
Meski bentuk tantangannya berubah, nilai pengabdiannya tetap sama.
Semangat yang ditunjukkan Moehammad Jasin dan para pejuang kepolisian pada masa kemerdekaan menjadi pengingat bahwa tugas seorang Bhayangkara pada akhirnya adalah memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Merawat Sejarah, Melanjutkan Pengabdian
Mengenang Hari Juang Polri bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa pada masa lalu. Lebih dari itu, peringatan tersebut merupakan kesempatan untuk merefleksikan kembali jati diri dan sejarah pengabdian Polri.
Dari Surabaya, perjuangan Moehammad Jasin menunjukkan bahwa pada masa yang penuh ketidakpastian, keberanian mengambil keputusan dapat menjadi bagian penting dalam menentukan arah sejarah.
Penegasan Polisi Istimewa sebagai bagian dari Polisi Republik Indonesia pada 21 Agustus 1945, perjuangan menguasai persenjataan Jepang, hingga keterlibatan dalam rangkaian Pertempuran Surabaya menjadi bagian dari jejak sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan awal Polri.
Warisan Moehammad Jasin bukan semata-mata tentang keberanian di medan perjuangan. Ia juga mewariskan nilai loyalitas kepada Republik, keberanian mengambil tanggung jawab, pengorbanan, serta semangat mengabdi kepada bangsa dan negara.
Puluhan tahun telah berlalu. Polri telah berubah menjadi institusi modern dengan tantangan yang jauh berbeda. Namun, semangat perjuangan para pendahulu tetap menjadi fondasi moral dalam menjalankan pengabdian.
Kemerdekaan yang diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan harus dijaga dengan pengabdian.
Mengenang para pejuang kepolisian berarti merawat ingatan sejarah. Dan merawat sejarah berarti memastikan nilai-nilai perjuangan tetap hidup dalam setiap langkah pengabdian generasi Bhayangkara hari ini dan masa depan.
Dari Surabaya, jejak perjuangan itu terus mengingatkan: Polisi Republik Indonesia lahir dari keberanian untuk berdiri bersama Republik, dan pengabdian itu harus terus dilanjutkan.
Sumber: Polri/Pusjarah






