LINTAS KALIMANTAN | Palangka Raya – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah mulai meningkat menjelang puncak musim kemarau. Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, S.A.P., M.Sc., menegaskan kesiapan TNI untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan Karhutla bersama seluruh unsur terkait.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Peningkatan Eskalasi Karhutla melalui video conference (Vicon) bersama Menko Polhukam RI yang digelar di Aula Arya Dharma Polda Kalteng, Palangka Raya, Senin (10/8/2026).
Rapat tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi menghadapi meningkatnya potensi Karhutla di wilayah Kalimantan Tengah. Berdasarkan hasil pemantauan, tercatat 1.147 titik panas dengan luas lahan terdampak mencapai kurang lebih 3.069 hektare.
Situasi tersebut menuntut seluruh unsur untuk meningkatkan kewaspadaan. Pangdam XXII/Tambun Bungai bersama jajaran TNI di wilayah Kalimantan Tengah terus mendorong penguatan deteksi dini, patroli terpadu, kesiapsiagaan personel, serta respons cepat terhadap setiap potensi kebakaran.
“Jangan sampai kita terlambat bertindak. Setiap titik panas dan laporan masyarakat harus segera ditindaklanjuti dengan langkah yang terukur dan terkoordinasi,” menjadi semangat yang ditekankan dalam penguatan penanganan Karhutla.
Dalam rakor tersebut, Pangdam juga bersama Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran, S.Ikom., Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan, S.I.K., M.Si., Kabinda Kalteng Marsma TNI Muhammad Nur, S.Sos., Danrem 102/Pjg Brigjen TNI Wimoko, S.E., M.Si., jajaran PJU Polda Kalteng, serta instansi terkait menyatukan langkah menghadapi ancaman Karhutla.
Pemerintah daerah bersama TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, dunia usaha, relawan, dan masyarakat terus memperkuat sinergi di lapangan. Upaya tersebut mencakup pencegahan, pemantauan titik panas, patroli terpadu, kesiapsiagaan, hingga percepatan respons ketika kebakaran terdeteksi.
Kewaspadaan menjadi semakin penting mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung cukup panjang dan turut dipengaruhi fenomena El Niño. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan kawasan rawan Karhutla.
Pangdam XXII/Tambun Bungai menegaskan bahwa penanganan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Diperlukan kerja bersama dan respons cepat seluruh unsur agar api dapat dikendalikan sejak dini dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Dengan penguatan koordinasi dan kesiapsiagaan tersebut, TNI bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen menjaga wilayah Kalimantan Tengah dari ancaman Karhutla sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat, lingkungan, dan pembangunan daerah.(*/rls/pen/red)







