LINTAS KALIMANTAN | Bulan Agustus kembali mengajak bangsa Indonesia mengenang perjalanan panjang perjuangan kemerdekaan. Di balik Merah Putih yang berkibar, terdapat kisah para pejuang yang mempertaruhkan hidup demi mempertahankan Republik Indonesia.
Salah satu nama yang patut dikenang adalah Imanuel Nuhan, putra asli Dayak Kalimantan Tengah dari Desa Tewa, yang menjadi bagian dari 13 prajurit dalam penerjunan payung pertama Indonesia pada 17 Oktober 1947.

Namanya mungkin tidak banyak dikenal generasi saat ini. Namun, perjalanan hidup Imanuel menyimpan bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa, khususnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan.
Jauh sebelum dikenal sebagai salah satu penerjun pertama Indonesia, Imanuel telah lebih dahulu menjalani kehidupan sebagai pejuang. Ia mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat sebelum berangkat ke Pulau Jawa untuk menempuh pendidikan di sekolah pelayaran.
Pada masa pendudukan Jepang, Imanuel sempat menjadi tentara Jepang. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, arah kehidupannya berubah. Ia memilih bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan terlibat dalam perjuangan di Surabaya dan wilayah sekitarnya.
Perjuangan Imanuel kemudian berlanjut bersama ALRI Divisi 4 Tuban. Dari Tuban, ia pernah dikirim menuju Kalimantan menggunakan perahu layar untuk kembali ke tanah kelahirannya.
Kepulangannya ke Kalimantan bukan untuk menjalani kehidupan biasa. Imanuel kembali sebagai seorang pejuang yang ikut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Di Kalimantan, ia terlibat dalam perjuangan dan pertempuran di sejumlah wilayah, di antaranya Teluk Bogam, Sungai Luci, Sungai Tabuk hingga Pangkalan Bun.
Hutan, sungai, laut dan kampung-kampung menjadi bagian dari perjalanan seorang pemuda Dayak yang memilih berdiri bersama Republik Indonesia pada masa kemerdekaan masih menghadapi ancaman.

Menjadi Bagian dari Sejarah Penerjunan
Setelah kembali ke Tuban, perjalanan perjuangan Imanuel memasuki babak baru. Ia bergabung dengan kesatuan yang dalam perkembangan sejarahnya menjadi bagian dari pasukan tempur darat matra udara TNI Angkatan Udara.Tugas besar kemudian datang pada 17 Oktober 1947.Sebuah pesawat C-47 Dakota RI-002 membawa 13 prajurit menuju wilayah Sambi, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Di antara 13 prajurit tersebut terdapat Imanuel Nuhan.
Pesawat itu dipiloti Bob Freeberg, didampingi kopilot Opsir Udara III Suhodo, dengan Opsir Muda Udara III Amir Hamzah sebagai jump master.
Ke-13 prajurit yang diterjunkan terdiri dari Hari Hadi Sumantri, FM Soejoto, Iskandar, Ahmad Kosasih, Bachri, J. Bitak, C. Williem, Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, J.H. Darius, Marawi dan Imanuel Nuhan.
Penerjunan tersebut menjadi pengalaman luar biasa bagi para prajurit. Sebagian besar di antara mereka belum pernah melakukan penerjunan dari pesawat dan hanya memperoleh teori serta latihan dasar di darat.
Namun, tugas negara harus dilaksanakan.
Ketika pintu pesawat Dakota terbuka, satu per satu prajurit melompat menuju tanah Kalimantan. Di antara mereka terdapat Imanuel Nuhan, putra Dayak yang sebelumnya telah berjuang di berbagai medan pertempuran.
Penerjunan itu bukan sekadar operasi militer. Para prajurit membawa misi membantu perjuangan gerilya rakyat Kalimantan, membangun jaringan komunikasi radio antara Kalimantan dengan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta, serta mempersiapkan wilayah penerjunan untuk mendukung operasi berikutnya.
Peristiwa 17 Oktober 1947 kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting sejarah operasi lintas udara Indonesia dan perkembangan pasukan tempur darat matra udara yang selanjutnya dikenal sebagai Paskhas TNI Angkatan Udara.
Dari Tanah Dayak, Laut hingga Langit Sambi
Perjalanan Imanuel Nuhan memiliki kisah tersendiri. Ia merupakan putra Dayak Kalimantan Tengah yang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang pejuang.
Ia berangkat dari Jawa menuju Kalimantan melalui laut. Ia bertempur di daratan Kalimantan, kemudian kembali ke wilayah tersebut melalui udara dalam sebuah operasi penerjunan yang menjadi bagian penting sejarah militer Indonesia.
Laut, darat dan langit menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangannya.
Semasa hidupnya, Imanuel juga terus menceritakan pengalaman yang pernah dilaluinya. Kesaksiannya menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan masa ketika kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya aman.
Kisahnya menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku sejarah.
Di balik itu terdapat para prajurit yang meninggalkan rumah, menyeberangi laut, menghadapi pertempuran dan menjalankan tugas negara dalam situasi penuh keterbatasan.
Imanuel Nuhan menjadi salah satu bagian dari generasi tersebut.
Ketika Sang Saksi Berpulang
Kini Imanuel Nuhan telah berpulang. Bersamanya pergi salah satu saksi dari generasi awal penerjunan payung Indonesia.
Namun, kepergiannya tidak seharusnya membuat kisah perjuangannya ikut hilang. Justru setiap bulan Agustus, ketika bangsa Indonesia kembali memperingati kemerdekaan, kisah seperti perjalanan Imanuel perlu terus diceritakan.
Sebab kemerdekaan yang dinikmati masyarakat hari ini tidak lahir begitu saja. Ada keberanian, pengorbanan dan perjuangan panjang yang dilakukan generasi terdahulu.
Imanuel Nuhan adalah bagian dari sejarah tersebut.
Ia adalah putra Dayak Kalimantan Tengah, pejuang ALRI Divisi 4 Tuban, veteran perjuangan di Kalimantan, salah satu dari 13 prajurit penerjunan pertama Indonesia serta saksi hidup yang membawa kisah perjuangan itu hingga akhir hayatnya.
Pada Agustus ini, ketika Sang Merah Putih berkibar di berbagai penjuru negeri, perjuangan Imanuel mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar upacara dan perayaan.
Kemerdekaan merupakan warisan yang dibayar dengan keberanian, pengorbanan dan perjuangan para pendahulu.
Dari tanah Dayak Kalimantan Tengah, Imanuel menjalani perjalanan panjang perjuangan. Dari Tuban, ia menyeberangi laut. Di Kalimantan, ia bertempur. Dan dari langit Sambi, namanya menjadi bagian dari sejarah penerjunan payung pertama Indonesia.
Imanuel Nuhan telah tiada. Namun, kisah perjuangannya akan tetap hidup selama bangsa ini tidak melupakan sejarah.
Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka bukan sekadar kata, tetapi warisan perjuangan yang harus dijaga dan diceritakan kepada generasi berikutnya. (Sumber dari Hernison dari anak kandung Imanuel Nuhan)







