LINTAS KALIMANTAN | Kotawaringin Barat – Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, S.A.P., M.Sc., melaporkan sejumlah kendala penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Menindaklanjuti laporan tersebut, Presiden RI menyatakan dukungan berupa pengiriman 200 unit mesin pompa air untuk mempercepat pemadaman api.
Laporan itu disampaikan Pangdam saat mengikuti Video Conference (Vicon) rapat terbatas evaluasi dan percepatan penanganan karhutla yang dipimpin Presiden RI di Balai Taman Nasional Tanjung Puting, Senin (12/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Pangdam didampingi Danrem 102/Pjg Brigjen TNI Wimoko, S.E., M.Si., Asops Kasdam XXII/TB Kolonel Inf Danang Prasetyo Wibowo, M.I.Pol., Dandim 1014/Pbn Letkol Inf Makin, S.Sos., M.I.P., Bupati Kotawaringin Barat Hj. Nurhidayah, S.H., M.H., serta Kapolres Kotawaringin Barat AKBP Joko Handono, S.I.K., M.H., M.M.
Pangdam menjelaskan, salah satu tantangan utama pemadaman karhutla di kawasan TNTP adalah lokasi titik api yang tersebar di wilayah rawa dan sulit dijangkau kendaraan darat. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan peralatan yang memadai agar upaya pemadaman dapat berjalan lebih efektif.
Untuk mengatasi kendala itu, Pangdam mengusulkan penambahan sekitar 50 unit mesin pompa air atau Alkon berukuran kecil serta pengerahan tim pengeboran air guna membangun sumur bor dengan kedalaman sekitar 10–15 meter.
Menurutnya, penanganan karhutla di TNTP perlu mendapat perhatian serius karena kebakaran tidak hanya mengancam habitat orangutan, tetapi juga berbagai satwa liar lainnya. Terlebih, kawasan konservasi tersebut masih menjadi tujuan kunjungan wisatawan mancanegara.
Menanggapi laporan tersebut, Presiden RI mengapresiasi kerja keras seluruh personel satuan tugas (Satgas) yang terlibat dalam penanganan karhutla. Presiden menegaskan bahwa Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian khusus karena memiliki nilai penting bagi kelestarian lingkungan dan perlindungan orangutan.
Sebagai langkah percepatan, Presiden menyampaikan dukungan pengiriman 200 unit mesin Alkon untuk membantu operasi pemadaman di lapangan. Selain itu, disetujui pula pembangunan 200 titik sumur bor dengan estimasi biaya Rp10 juta per titik, sehingga total anggaran yang diperkirakan mencapai Rp2 miliar.
Presiden juga meminta agar dilakukan konsolidasi dengan para penerbang untuk meningkatkan efektivitas operasi pemadaman dari udara.
Selain penanganan darurat, Pangdam bersama unsur terkait diharapkan terus memperkuat langkah pencegahan karhutla melalui mitigasi sejak dini, khususnya di desa-desa yang berada di kawasan gambut.
Penguatan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) serta sinergi TNI, Polri, pemerintah daerah, instansi kehutanan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran berulang.
Dukungan peralatan dan pembangunan sumur bor tersebut diharapkan dapat mempercepat pemadaman karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting sekaligus menjaga kelestarian ekosistem dan habitat satwa yang dilindungi. (*/rls/pen/red)







